Jumat, 30 November 2018
Jumat, 13 September 2019
Selasa, 22 Juni 2021
Selasa, 22 November 2022
Rabu, 04 Desember 2024
Rabu, 15 Januari 2025
---
* Least Valuable Currencies in The World
ARBAIN RAMBEY:
Diagram ini bikin kesel ah ...
WURRY PARLUTEN:
Berhenti terobsesi dengan gengsi nominal mata uang. Sebab nilai tukar sering kali hanya menjadi indikator sekunder dibandingkan dengan pendapatan riil rakyat.
Bayangkan seorang pekerja di Amerika Serikat mendapatkan gaji $1.000 per bulan, dan seorang pekerja di Indonesia mendapatkan gaji Rp16.000.000 per bulan. Secara kurs, jumlahnya sama ($1.000 = Rp16.000.000).
Namun, apakah mereka sama-sama sejahtera? Itu tergantung pada harga barang di negara masing-masing:
* Jika di AS harga makan siang adalah $10, maka dengan $1.000 dia bisa makan 100 kali.
* Jika di Indonesia harga makan siang yang "setara" (kualitas gizi dan kepuasan yang sama) adalah Rp20.000, maka dengan Rp16.000.000 kita bisa makan 800 kali.
Dalam skenario ini, pekerja di Indonesia justru jauh lebih sejahtera meski secara kurs mata uangnya terlihat "kecil".
Jika Pemerintah memaksakan kurs menjadi $1 = Rp1 tanpa memperbaiki ekonomi, yang terjadi justru bencana ekonomi.
* Tagar di X, #CountriesEconomicIndicator
---
LOLO:
Rupiah menjadi salah satu dari Least Valuable Currencies in The World. Apa berarti negara ini jelek?
STUPID:
Nilai tukar mata uang yang rendah tidak serta-merta mencerminkan bahwa suatu negara "jelek" atau gagal. Mata uang hanyalah INSTRUMEN EKONOMI yang nilainya ditentukan oleh berbagai faktor kompleks, bukan sekadar cerminan kualitas bangsa secara keseluruhan.
Berikut adalah beberapa poin penting untuk memahami mengapa posisi Rupiah tidak bisa disimpulkan sebagai cerminan buruknya negara:
1. Nilai Nominal vs. Kekuatan Ekonomi
Nilai tukar sering kali disalahpahami sebagai ukuran "kekuatan" sebuah negara. Padahal, nilai mata uang adalah hasil dari kebijakan moneter, sejarah, dan sistem ekonomi. Sebagai contoh, sebuah negara bisa saja melakukan kebijakan redenominasi (penyederhanaan angka pada mata uang, misalnya Rp10.000 menjadi Rp10) untuk membuat nilai nominal mata uangnya tampak lebih "tinggi" terhadap dolar, namun hal ini tidak mengubah daya beli atau kekuatan ekonomi negara tersebut secara fundamental.
2. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kurs
Banyak faktor eksternal dan internal yang membuat nilai tukar berfluktuasi:
* Kebijakan Moneter Global: Ketika bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga, investor cenderung memindahkan modalnya ke aset dolar yang dianggap lebih aman, sehingga mata uang negara lain (termasuk Rupiah) sering melemah secara teknis.
* Neraca Perdagangan: Kurs dipengaruhi oleh jumlah ekspor dan impor. Jika negara banyak mengimpor barang modal atau bahan baku, permintaan terhadap valuta asing meningkat, yang bisa menekan nilai tukar mata uang domestik.
* Stabilitas dan Investasi: Kondisi politik dan keamanan yang stabil di Indonesia menjadi daya tarik bagi investor. Stabilitas ini jauh lebih krusial bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang daripada sekadar angka nilai tukar di papan kurs.
3. Sisi Positif dari Mata Uang yang "Murah"
Dalam perdagangan internasional, mata uang yang memiliki nilai tukar lebih rendah terhadap dolar justru bisa memberikan keuntungan kompetitif bagi negara tersebut:
* Mendorong Ekspor: Barang produksi dalam negeri menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri (karena mereka bisa mendapatkan lebih banyak produk dengan dolar mereka), sehingga dapat memacu industri lokal dan lapangan kerja.
* Pariwisata: Negara dengan mata uang yang relatif lebih murah sering kali menjadi destinasi wisata yang menarik karena daya beli turis asing menjadi lebih tinggi saat berkunjung.
4. Apa yang Sebenarnya Penting?
Alih-alih terpaku pada nilai tukar, para ahli ekonomi biasanya lebih memerhatikan indikator-indikator makro yang lebih substansial, seperti:
* Pertumbuhan Ekonomi (PDB): Seberapa produktif negara tersebut.
* Tingkat Inflasi: Kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
* Cadangan Devisa: Kemampuan negara dalam mengelola pembayaran internasional dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Kesimpulan:
Rupiah yang berada di kisaran angka ribuan per dolar adalah bagian dari sistem moneter yang telah berjalan lama. Hal ini bukan berarti Indonesia adalah negara yang jelek, melainkan sebuah negara yang sedang berupaya menjaga keseimbangan antara ekspor, impor, dan arus modal di tengah dinamika ekonomi global yang sangat kompetitif.
---
LOLO:
Apa yang terjadi jika Rp1,- sama dengan $18.000,- ? Bagaimana gambaran tentang kondisi Republik Indonesia?
STUPID:
Jika nilai tukar berbalik menjadi Rp1 = $18.000, ini artinya mata uang Rupiah mengalami penguatan yang sangat drastis dan tidak wajar (hampir 300 juta kali lipat lebih kuat dari kondisi saat ini).
Jika skenario ini benar-benar terjadi, kita tidak sedang membicarakan "penguatan ekonomi," melainkan keruntuhan total sistem moneter global dan ekonomi Indonesia. Berikut adalah gambaran kondisi Republik Indonesia dalam situasi tersebut:
1. Ekspor Indonesia Mati Total
Ini adalah dampak paling instan. Saat ini, banyak produk Indonesia (seperti tekstil, furnitur, hingga hasil tani) laku di luar negeri karena harganya kompetitif.
* Jika Rupiah menguat 300 juta kali lipat, harga barang ekspor Indonesia bagi pembeli luar negeri akan menjadi sangat mahal (tidak masuk akal).
* Pabrik-pabrik ekspor akan tutup dalam sekejap, jutaan buruh kehilangan pekerjaan, dan devisa negara akan hilang karena tidak ada lagi yang mau membeli barang dari kita.
2. Industri Dalam Negeri Hancur oleh Impor yang "Terlalu Murah"
Bayangkan sebuah ponsel yang harganya $500 (sekitar Rp8 juta saat ini). Jika Rp1 = $18.000, maka ponsel seharga $500 itu hanya akan berharga Rp0,027.
* Barang-barang luar negeri akan membanjiri pasar Indonesia dengan harga yang nyaris gratis.
* Produsen lokal tidak akan sanggup bersaing dengan harga yang "tidak masuk akal" tersebut. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan gulung tikar karena tidak ada orang yang mau membeli barang lokal jika barang impor berkualitas tinggi jauh lebih murah daripada sebutir permen.
3. Kekayaan Tabungan dan Aset Menjadi "Dewa"
Jika Anda memiliki tabungan Rp180.000 saja, secara matematis Anda akan memiliki $3,2 miliar.
* Seluruh rakyat Indonesia akan mendadak menjadi miliarder dalam dolar.
* Namun, ini adalah "kekayaan semu". Karena ekonomi sudah hancur (seperti poin 1 dan 2), tidak akan ada barang yang bisa dibeli karena pabrik sudah tutup dan rantai pasok global terputus. Uang sebanyak itu tidak akan ada gunanya di pasar yang sudah tidak memiliki barang untuk dijual.
4. Sistem Perbankan dan Utang Runtuh
* Utang Pemerintah: Utang negara Indonesia dalam mata uang asing akan lunas seketika. Namun, pemberi pinjaman (negara lain) akan mengalami kerugian besar, yang berpotensi memicu konflik ekonomi internasional atau bahkan perang dagang ekstrem.
* Sistem Perbankan: Bank-bank akan bangkrut karena aset dan kewajiban mereka menjadi tidak seimbang secara brutal. Sistem keuangan akan membeku karena tidak ada yang tahu bagaimana cara menghitung nilai aset dalam Rupiah yang baru.
5. Gambaran Kondisi Sosial: "Kelaparan di Tengah Kelimpahan Uang"
Ini adalah kondisi yang paling ironis:
* Masyarakat memiliki uang yang luar biasa banyak, namun barang kebutuhan pokok tidak ada karena produksi dalam negeri mati dan tidak ada perdagangan internasional yang normal.
* Terjadi hiper-deflasi (penurunan harga drastis yang tidak terkendali) yang membuat roda ekonomi berhenti berputar sama sekali. Kehidupan akan kembali ke sistem barter karena mata uang Rupiah tidak lagi berfungsi sebagai alat tukar yang stabil.
KESIMPULAN
Jika Rp1 = $18.000, Indonesia bukan menjadi negara maju, melainkan negara yang ekonominya lumpuh.
Mata uang yang stabil dan kuat bukanlah mata uang yang nilainya "terlalu tinggi" atau "terlalu rendah", melainkan mata uang yang nilainya bisa diprediksi. Nilai tukar yang ideal adalah yang mencerminkan keseimbangan antara daya saing ekspor dan kemampuan beli masyarakat. Perubahan ekstrem seperti yang Anda sebutkan akan memicu kekacauan ekonomi yang jauh lebih parah daripada krisis ekonomi mana pun dalam sejarah manusia.
---
LOLO:
Apakah poin tentang kurs ini berpengaruh terhadap catatan dari tahun 2017 ini?
STUPID:
Laporan dari World Economic Forum (WEF) tahun 2017 mengenai proyeksi ekonomi 2030 yang Anda tautkan menggunakan metode Purchasing Power Parity (PPP), bukan kurs pasar biasa (Market Exchange Rates). Hal ini sangat krusial dalam menjawab pertanyaan Anda.
Mengapa PPP Berbeda?
Dalam peringkat ekonomi global, ada dua cara utama untuk mengukur PDB:
1. PDB Nominal (Market Exchange Rates): Mengonversi nilai ekonomi negara ke dolar AS menggunakan kurs pasar saat ini. Metode ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi kurs harian.
2. PDB PPP (Purchasing Power Parity): Mengukur nilai ekonomi dengan mempertimbangkan daya beli. PPP menghitung berapa banyak barang dan jasa yang bisa dibeli dengan uang di negara tersebut dibandingkan dengan apa yang bisa dibeli oleh jumlah uang yang sama di AS.
Poin pentingnya: Metode PPP digunakan justru untuk menghilangkan bias akibat fluktuasi nilai tukar yang tidak stabil.
PENGARUH KURS TERHADAP PREDIKSI TERSEBUT
Peringkat Indonesia yang diprediksi akan naik pesat (hingga posisi ke-5 pada tahun 2030) dalam laporan tersebut tidak bergantung pada penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar.
Alih-alih "memperbaiki" kurs, peringkat tinggi Indonesia dalam laporan WEF/PwC tersebut didorong oleh faktor-faktor riil:
* Populasi besar: Jumlah penduduk yang besar berarti pasar domestik yang luas.
* Pertumbuhan permintaan domestik: Seiring meningkatnya pendapatan per kapita, masyarakat Indonesia mengonsumsi lebih banyak produk dan jasa.
* Produktivitas: Peningkatan kapasitas produksi dan infrastruktur.
JADI, APAKAH KURS "TIDAK PENTING"?
Bukan berarti kurs tidak penting, melainkan bukan itu yang menjadi ukuran utama kemajuan ekonomi jangka panjang.
Dalam konteks laporan WEF, sebuah negara dianggap "kuat" bukan karena mata uangnya sebanding dengan dolar, melainkan karena:
1. Ekonominya produktif: Mampu menghasilkan banyak barang dan jasa yang bernilai tinggi.
2. Daya beli masyarakat kuat: Pendapatan masyarakat cukup untuk membeli kebutuhan hidup dengan kualitas yang baik.
3. Fundamental ekonomi stabil: Inflasi terkendali, utang terkelola, dan investasi terus mengalir.
Jika Indonesia berhasil mencapai peringkat ke-5 dunia seperti prediksi tersebut, itu terjadi karena kualitas hidup dan output ekonomi Indonesia yang naik, bukan karena Pemerintah "mengotak-atik" nilai tukar agar Rp1 menjadi $1. Justru sebaliknya, jika ekonomi kita sudah sekuat itu, nilai tukar secara alami akan stabil dan terjaga dengan sendirinya mengikuti kekuatan fundamental ekonomi tersebut.
Dengan kata lain, laporan tersebut memvalidasi argumen kita sebelumnya: fokuslah pada PENINGKATAN DAYA BELI dan KUALITAS PRODUK DALAM NEGERI, dan posisi ekonomi negara di mata dunia akan naik dengan sendirinya.
===
Dewa t'lah mengutukmu,
Kar'na mata uangmu.
* Dewa 19
---
RABU, 3 JUNI 2026
KIN:
Mbak Imi baru otw ke Prabu ya (16.01)
URI:
Khabari kalu lah sampe. Nak turun dimana Imi rencana? (16.02)
KIN:
Di masjid
URI:
Ok. (16.03)
IMI:
Oke okee (16.07)
Lembak (16.18)
URI:
Ayah di pinggir jalan, dekat masjid. (16.21)
IMI:
Oke yahh (16.22)
Cambai (16.32)
URI:
Uyi & Ewi gimana khabar? Ayah dan Imi di tempat Ica-Kiki. (18.58)
KIN:
Alhamdulillah mbak Uyi baik yah, tadi UAS
Kalo adek Ewi baik juga alhamdulillah. Yai yasinan 100 hari pak Mugni (19.40)
URI:
Ok (20.11)
KAMIS, 4 JUNI 2026
KIN:
Hallo apakabarnyaaa (05.19)
IMI:
Baikk (05.29)
Baru sudah mandi
KIN:
Okee (05.37)
IMI:
Alhamdulillah Imi lah sampe di RSUD Prabumulih. (07.13)
KIN:
Alhamdulillah (07.44)
URI:
Ada kali seminggu lebih nggak hujan, ya? (13.49)
KIN:
Iya yah bener
URI:
Gila. Benarkah SMAN 14 Bandar Lampung bisa masuk PTN semua? Hebat banget ini. (21.13)
Bener. Ini beritanya di Kompas. Tadinya bukan sekolah yang diperhitungkan. (21.14)
KIN:
Iya yah (21.29)
---
Asa Doa Imi dkk (April 2026)
SNPMB = Sistem Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru
SNBP = Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi
SNBT = Seleksi Nasional Berdasarkan Tes)
UTBK = Ujian Tulis Berbasis Komputer
---


