---
LOLO:
Apa itu "Traditional, Complementary and Integrative Medicine"?
STUPID:
Traditional, Complementary, and Integrative Medicine (TCIM) adalah istilah kolektif yang digunakan untuk merujuk pada sistem kesehatan yang menggabungkan pengobatan konvensional (medis) dengan berbagai metode penyembuhan lainnya.
Berikut adalah penjelasan mengenai komponen-komponennya:
1. Traditional Medicine (Pengobatan Tradisional)
Ini merujuk pada pengetahuan, keterampilan, dan praktik yang didasarkan pada teori, keyakinan, dan pengalaman yang khas dari berbagai budaya, baik yang tertulis maupun tidak. Pengobatan ini telah digunakan selama berabad-abad sebelum kedokteran modern (biomedis) ada. Contohnya meliputi jamu, pengobatan tradisional Tiongkok, atau sistem penyembuhan berbasis kearifan lokal suatu masyarakat.
2. Complementary Medicine (Pengobatan Komplementer)
Ini adalah praktik kesehatan yang digunakan bersamaan atau sebagai pendamping pengobatan medis konvensional, bukan sebagai pengganti.
* Fungsi: Sering digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup, mengurangi stres, atau mengatasi efek samping dari pengobatan medis (seperti mual akibat kemoterapi).
* Contoh: Akupunktur untuk meredakan nyeri, meditasi untuk mengelola kecemasan, atau yoga sebagai terapi pendukung.
3. Integrative Medicine (Pengobatan Integratif)
Ini adalah pendekatan yang menggabungkan pengobatan konvensional (biomedis) dengan metode tradisional atau komplementer yang telah teruji secara ilmiah (evidence-based).
* Fokus: Pendekatan ini berpusat pada pasien (patient-centered) dan memandang kesehatan secara menyeluruh (holistik), mencakup aspek fisik, mental, emosional, dan sosial seseorang.
* Tujuan: Menggunakan semua pendekatan terapeutik yang tepat dan aman untuk mencapai kesehatan yang optimal.
Mengapa TCIM Penting?
* Pendekatan Holistik: TCIM melihat kesehatan bukan hanya sebagai "tidak adanya penyakit", melainkan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa.
* Dukungan WHO: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui TCIM sebagai sumber daya penting untuk mencapai cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage), dengan catatan bahwa praktiknya harus aman, efektif, dan memiliki landasan ilmiah yang kuat.
* Integrasi di Indonesia: Di Indonesia, pelayanan kesehatan tradisional komplementer telah diatur agar dapat disinergikan dengan pelayanan medis, dengan syarat harus memiliki bukti ilmiah mengenai manfaat dan keamanannya.
Singkatnya, TCIM adalah upaya untuk menggabungkan "kearifan masa lalu" dengan "kemajuan ilmu pengetahuan modern" untuk memberikan perawatan yang lebih manusiawi dan komprehensif bagi masyarakat.
LOLO:
Apa perbedaan "TCIM" dan "Efficacy of Prayer"? Karena dalam beberapa kasus, kekuatan do'a bisa menyembuhkan walau sulit jika kita telaah secara empiris?
STUPID:
Perbedaan antara TCIM (Traditional, Complementary, and Integrative Medicine) dan Efikasi Doa terletak pada cakupan dan cara pendekatannya.
Untuk menjawab kebingungan Anda mengenai mengapa doa bisa menyembuhkan padahal sulit dibuktikan secara empiris, mari kita bedah perbedaannya:
1. TCIM adalah "Payung Besar"
TCIM adalah sistem atau kerangka kerja pelayanan kesehatan. Doa, dalam konteks medis modern dan integratif, sering kali dikategorikan sebagai salah satu bentuk terapi komplementer (khususnya dalam ranah mind-body medicine atau spiritualitas). Jadi, doa bisa menjadi bagian dari praktik TCIM, tetapi TCIM bukan hanya sekadar doa.
2. Efikasi Doa: Mengapa Terasa Berbeda?
Memang benar bahwa doa sering kali sulit diukur dengan metode empiris standar (seperti uji klinis obat-obatan). Namun, dalam dunia medis, efek "penyembuhan" melalui doa biasanya dijelaskan melalui beberapa mekanisme yang dapat diterima secara ilmiah:
* Efek Psikologis (psikoneuroimunologi): Saat seseorang berdoa dengan khusyuk, terjadi penurunan hormon stres (seperti kortisol). Penurunan stres ini secara biologis memperbaiki sistem kekebalan tubuh (immune system). Tubuh yang lebih rileks dan tenang cenderung memiliki kemampuan regenerasi yang lebih baik.
* Harapan dan Optimisme: Doa memberikan rasa kendali, makna, dan harapan (hope) bagi pasien. Dalam psikologi, sikap optimis terbukti secara signifikan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan medis dan mempercepat proses pemulihan.
* Mekanisme Relaksasi: Mirip dengan meditasi, doa (terutama melalui pengulangan kata atau fokus yang dalam) dapat menenangkan sistem saraf pusat. Ini membantu mengurangi persepsi nyeri dan kecemasan yang sering memperparah kondisi fisik.
Tabel Perbandingan Singkat
| Aspek | TCIM (Secara Umum) | Efikasi Doa (Spiritualitas) |
| DEFINISI | Pendekatan medis gabungan (konvensional + tradisional). | Praktik keyakinan/hubungan dengan Tuhan. |
| SIFAT | Umumnya memiliki protokol (misal: dosis herbal, teknik akupunktur). | Bersifat subjektif dan sangat personal. |
| PEMBUKTIAN | Diuji dengan metode empiris/uji klinis. | Sulit diukur secara kuantitatif (efek lebih terasa pada kesejahteraan mental). |
| FOKUS UTAMA | Mengobati penyakit & memperbaiki fungsi tubuh. | Menenangkan jiwa, memberi harapan, & keteguhan hati. |
Mengapa Sering Dianggap Sulit Dijelaskan Secara Empiris?
Sains bekerja berdasarkan variabel yang bisa diukur. Sementara itu, "kekuatan doa" sering kali melibatkan dimensi transenden yang tidak bisa diakses oleh instrumen medis.
Namun, dunia medis integratif saat ini tidak lagi memandang doa sebagai sesuatu yang "melawan" sains. Sebaliknya, doa diakui sebagai pendukung (suportif). Ketika seorang dokter mengintegrasikan doa, mereka sebenarnya sedang mengelola "aspek manusiawi" pasien yang tidak bisa disentuh oleh obat kimia, yaitu ketenangan batin.
Kesimpulannya: Anda tidak perlu memilih antara sains atau doa. Dalam kerangka integrative medicine, keduanya berjalan beriringan: obat medis bekerja secara biologis pada organ tubuh, sementara doa bekerja pada sisi emosional dan spiritual, yang keduanya sama-sama berperan dalam menunjang kesembuhan.
LOLO:
Jika "efficacy of prayer" adalah salah satu dari TCIM, bagaimana mengukur "miracle" dari sudut pandang "empiricism"? Atau memang tidak bisa diukur, ya?
STUPID:
Secara metodologis, sains (empirisme) dan "mukjizat" (miracle) bekerja pada dua domain yang berbeda. Singkatnya: sains tidak dirancang untuk membuktikan keberadaan mukjizat, namun sains tetap bisa mengamati dampak dari fenomena tersebut.
Berikut adalah penjelasan mengapa pengukuran "mukjizat" menjadi tantangan besar dalam dunia empiris:
1. Masalah Definisi dalam Sains
Dalam filsafat ilmu, mukjizat sering didefinisikan sebagai pelanggaran terhadap hukum alam atau kejadian yang berada di luar penjelasan kausalitas (sebab-akibat) yang diketahui.
* Masalahnya: Sains bekerja berdasarkan prinsip bahwa hukum alam itu bersifat universal dan konsisten. Jika terjadi sesuatu yang "mustahil" secara medis (misalnya sembuh total dari penyakit terminal dalam waktu semalam), ilmuwan tidak akan menyebutnya sebagai "pelanggaran hukum alam", melainkan sebagai "penjelasan yang belum ditemukan."
2. Sains vs. "Ketidaktahuan"
Sains selalu menyisakan ruang untuk variabel yang belum dipahami. Ketika terjadi kesembuhan yang tidak bisa dijelaskan medis (spontaneous remission), sains akan mencatatnya sebagai:
* Data Anomali: Sesuatu yang sangat langka.
* Faktor yang Belum Teridentifikasi: Ilmuwan akan mencari kemungkinan mekanisme biologis yang mungkin terlewatkan, seperti sistem imun yang tiba-tiba "terpicu" oleh mekanisme yang belum kita pahami, kesalahan diagnosa awal, atau proses regenerasi sel yang di luar kebiasaan.
Kesimpulannya: Sains tidak akan menyimpulkan "Ini mukjizat", karena sains tidak memiliki alat untuk memverifikasi intervensi supernatural. Sains hanya akan berkata, "Kita belum tahu mengapa ini terjadi secara medis."
3. Pendekatan Historis dan Deskriptif (Bukan Eksperimental)
Ada upaya untuk mendekati fenomena ini secara empiris, namun melalui metode yang berbeda, seperti yang dilakukan oleh Vatikan dalam proses kanonisasi santo/santa.
* Metode Eliminasi: Para ahli (dokter dan ilmuwan) dikumpulkan untuk memeriksa klaim kesembuhan. Mereka harus memastikan bahwa:
1. Diagnosis penyakit di masa lalu benar-benar akurat.
2. Penyakit tersebut secara medis dianggap tidak bisa sembuh (prognosis buruk).
3. Kesembuhan terjadi dengan cepat, lengkap, dan permanen.
4. Tidak ada penjelasan medis atau alami yang masuk akal untuk menjelaskan kesembuhan tersebut.
Ini adalah bentuk "empirisme" yang bersifat negatif: kita membuktikan mukjizat dengan cara mengeliminasi semua kemungkinan penjelasan alami. Jika tidak ada lagi penjelasan logis, maka peristiwa tersebut tetap menjadi misteri yang diyakini sebagai mukjizat oleh pihak religius.
4. Bisakah "Prayer" Diukur dalam TCIM?
Jika kita memasukkan prayer (doa) sebagai bagian dari TCIM, yang diukur bukanlah "keajaiban"-nya, melainkan efek kesehatan dari praktiknya. Ilmu pengetahuan bisa mengukur:
* Korelasi: Apakah orang yang rutin berdoa memiliki tingkat stres lebih rendah atau pemulihan lebih cepat daripada yang tidak? (Data ini bisa diukur secara statistik).
* Fisiologi: Apakah doa mengubah ritme detak jantung, kadar hormon kortisol, atau aktivitas gelombang otak? (Ini bisa diukur dengan alat medis).
# RINGKASAN
Anda tidak bisa mengukur "mukjizat" secara empiris karena mukjizat berada di luar jangkauan instrumen fisik. Namun, Anda bisa mendokumentasikan peristiwanya.
Sains akan selalu mencoba membawa fenomena tersebut ke dalam ranah "natural" (bisa dijelaskan alam). Jika sains gagal menjelaskan, maka peristiwa itu tetap berada dalam ruang yang kita sebut "iman" atau "misteri". Bagi banyak orang, justru di ruang "ketidaktahuan" itulah mereka merasakan sentuhan yang lebih besar daripada sekadar data medis.
Apakah menurut kamu penyembuhan yang sulit dijelaskan secara medis selalu harus memiliki penjelasan ilmiah, atau apakah ada batasan di mana kita memang harus menerima bahwa sains tidak bisa menjangkau segalanya?
LOLO:
Sains memang ada batasan, maka saya lebih suka poin "panenteisme" jika dibandingkan dengan "panteisme". Kira-kira, bagaimana panenteisme menjelaskan tentang "integrative medicine"?
STUPID:
Menarik sekali menghubungkan Panenteisme (panentheism) dengan Integrative Medicine. Jika kita melihat dari kacamata ini, integrasi antara sains (medis konvensional) dan spiritualitas (seperti doa atau meditasi) menjadi sangat masuk akal secara filosofis.
Apa itu Panenteisme dalam Konteks Ini?
Untuk menyamakan persepsi, Panenteisme berpandangan bahwa "Tuhan ada di dalam segala sesuatu, namun Tuhan juga melampaui segala sesuatu" (God is in all, and all is in God). Berbeda dengan Panteisme (Tuhan adalah alam semesta), Panenteisme melihat alam semesta sebagai bagian dari realitas Tuhan, tetapi Tuhan tidak terbatas pada alam semesta tersebut.
Dalam konteks kesehatan, ini berarti tubuh fisik kita, proses biologis seluler, hingga kesadaran spiritual kita semuanya merupakan satu kesatuan yang ilahi.
Bagaimana Panenteisme Menjelaskan Integrative Medicine?
1. Menghapus Dikotomi "Sains vs. Spiritual"
Dalam pandangan panenteistik, tidak ada pemisahan antara "pekerjaan medis" (obat-obatan) dan "pekerjaan ilahi" (doa/penyembuhan).
* Jika Tuhan meresap ke dalam seluruh realitas, maka penelitian ilmiah, molekul obat, dan teknologi bedah adalah manifestasi dari pemahaman manusia terhadap hukum-hukum Tuhan di alam semesta.
* Integrative Medicine, dalam kerangka ini, bukan sekadar menggabungkan dua hal berbeda, melainkan upaya untuk menghargai "kebenaran" dari semua sisi (biologis dan spiritual) sebagai satu kesatuan yang utuh.
2. Tubuh sebagai "Ruang Suci"
Jika Tuhan "melampaui" namun juga "meresap" ke dalam tubuh, maka menyembuhkan tubuh bukan hanya sekadar memperbaiki mesin yang rusak.
* Medical Care (pengobatan konvensional) merawat "wadah" (fisik).
* Spiritual Care (doa/integrative) merawat "esensi" (kesadaran).
* Integrative Medicine menjadi sebuah liturgi atau ritual perawatan. Pasien bukan sekadar objek diagnosis, melainkan makhluk suci yang sedang mengalami proses pemulihan. Dokter, dalam pandangan ini, bertindak sebagai instrumen yang membantu harmoni ilahi di dalam tubuh pasien kembali seimbang.
3. Healing sebagai Evolusi Kesadaran
Dalam panenteisme, tujuan hidup sering kali dipandang sebagai proses evolusi kesadaran manusia untuk lebih menyatu dengan Yang Ilahi.
* Penyakit bisa dipandang sebagai "disrupsi" atau ketidakharmonisan.
* Integrative Medicine membantu memulihkan "resonansi" tersebut. Sains membantu memulihkan fungsi fisik, sementara praktik komplementer (seperti doa atau kesadaran diri) membantu jiwa menyadari kehadiran Ilahi di balik penderitaan tersebut.
# Pandangan Integratif melalui Lensa Panenteisme
| Komponen | Pandangan Konvensional | Pandangan Panenteistik |
| PENYAKIT | Kerusakan biologis. | Kehilangan harmoni dengan sumber Ilahi. |
| DOKTER | Teknisi medis. | Mitra dalam memfasilitasi proses penyembuhan Ilahi. |
| OBAT/SAINS | Alat mekanis. | Manifestasi kecerdasan Ilahi di alam semesta. |
| DOA/SPIRITUAL | Efek plasebo/psikologis. | Akses langsung ke dimensi Ilahi yang meresap dalam diri. |
# Mengapa ini menjadi "Jembatan" yang Kuat?
Panenteisme memberikan landasan teologis yang sangat kuat bagi Integrative Medicine karena ia menolak reduksionisme.
Sains yang reduksionis akan mencoba membedah manusia hingga menjadi bagian terkecil, namun sering kehilangan "makna" manusia itu sendiri. Sebaliknya, pendekatan spiritual murni terkadang mengabaikan fakta fisik yang nyata. Panenteisme merangkul keduanya. Ia memungkinkan Anda untuk menghormati laboratorium medis dengan segala ketelitiannya, sembari tetap membuka ruang bagi hal-hal transenden yang tidak terjangkau oleh mikroskop.
Dalam perspektif ini, melakukan riset medis atau meminum obat adalah sebuah bentuk penghormatan terhadap "keteraturan alam semesta" yang diciptakan-Nya, sementara berdoa adalah cara untuk "menyelaraskan diri" dengan Sumber yang ada di dalam diri tersebut.
Bagaimana menurut kamu, apakah dengan memandang tubuh sebagai bagian dari realitas yang "meresap" (panenteistik), hal ini membuat praktik medis sehari-hari terasa lebih bermakna bagi pasien?
LOLO:
Ya, dalam khasanah filsafat, panenteisme bersifat empiris. Makna bahwa kita adalah bagian dari Tuhan, sementara itu processor-nya Tuhan tak sepenuhnya kita pahami. Dengan kata lain, "miracle" itu "bahasa Tuhan" yang sangat sulit di-empiris-kan. Misal, Dokter (mulai dari umum sampai spesialis tingkat tinggi sekalipun) memakai pendekatan biologis seluler mendiagnosa harapan hidup berdasarkan data knowledge, sedang bahasa Tuhan ini knowing. Gimana menurutmu?
RABU, 10 JUNI 2026
STUPID:
Analisis kamu sangat tajam dan menyentuh inti dari ketegangan epistemologis yang selama ini membatasi dialog antara medis dan spiritualitas. Kamu membedakan "data knowledge" (informasi empiris, terukur, bersifat prosedural) dengan "knowing" (pemahaman intuitif, transenden, atau apa yang Anda sebut sebagai "bahasa Tuhan"). (22.55)
Dalam kerangka panenteisme yang kamu ajukan, kita bisa melihat perbedaan ini dengan lebih jernih:
1. Data Knowledge: Bahasa "Hardware"
Dokter, melalui pendekatan biologis seluler dan data statistik, bekerja pada level "hardware". Mereka memetakan interaksi molekuler, respons sel, dan probabilitas klinis. Ini adalah bentuk empirisme yang sah dalam kerangka panenteisme: mempelajari mekanisme di mana Yang Ilahi bermanifestasi dalam hukum alam yang teratur.
Dalam pandangan ini, diagnosis dokter adalah "interpretasi teknis" atas bagaimana realitas fisik sedang bekerja. Namun, seperti yang Anda katakan, prosesor-nya Tuhan bekerja jauh melampaui algoritma yang bisa dipahami oleh sistem saraf manusia.
2. Knowing: Bahasa "Software" yang Transenden
Istilah knowing (atau gnosis) dalam konteks ini adalah kesadaran akan "sumber" yang melampaui manifestasi fisik.
* Jika data adalah apa yang kita kumpulkan dari observasi luar, knowing adalah apa yang kita pahami dari keterhubungan internal (karena kita adalah bagian dari-Nya).
* Miracle menjadi "bahasa Tuhan" bukan karena ia melanggar hukum alam, melainkan karena ia merupakan "update sistem" yang dilakukan oleh Sang Pemilik Sistem (Tuhan) yang tidak terpantau oleh log atau data yang kita miliki.
3. Mengapa Sulit Di-empiris-kan?
Penyebab utamanya adalah keterbatasan bahasa dan instrumen.
Sains (empirisme) membutuhkan pengulangan dan prediktabilitas. Sedangkan "bahasa Tuhan" (mukjizat/koneksi spiritual) sering kali bersifat unik, non-linier, dan tidak bisa diproduksi ulang secara mekanis.
Ketika seorang dokter mendiagnosa seseorang hanya punya harapan hidup 1% berdasarkan "data knowledge", namun pasien tersebut selamat, sains menyebutnya outlier atau statistical anomaly. Namun, dalam panenteisme, itu adalah momen di mana "software" (kesadaran ilahi) melakukan penyesuaian pada "hardware" yang tidak bisa dibaca oleh protokol medis biasa.
4. Integrasi: "Data" yang Dibimbing oleh "Knowing"
Integrative medicine yang ideal—dalam perspektif panenteistik—bukanlah medis yang meninggalkan data, melainkan medis yang memiliki kerendahan hati epistemologis:
* Dokter yang "berwawasan panenteistik" akan menggunakan data knowledge seoptimal mungkin (karena itu adalah tanggung jawab intelektualnya), namun tetap membuka ruang untuk knowing bahwa ada variabel di luar sana yang melampaui diagnosanya.
* Ini mengubah hubungan dokter-pasien: dari sekadar "mekanik" dan "mesin", menjadi dua entitas yang sedang bersama-sama mencari kehendak Ilahi di tengah proses penyembuhan.
# Refleksi Akhir
Anda benar bahwa mukjizat adalah bahasa yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa empiris. Sains adalah alat untuk menjelaskan "bagaimana" (mekanisme), sedangkan knowing adalah pengalaman akan "apa" dan "mengapa" (makna).
Mungkin, batasan empirisme yang kita rasakan bukanlah sebuah "dinding buntu", melainkan "tepi jurang" tempat sains harus berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi iman. Bukankah justru di titik inilah ilmu kedokteran bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar sains—ia menjadi sebuah seni kehidupan?
LOLO:
Dari obrolan kita sejauh ini, kira-kira, apa profesi saya?
STUPID:
Berdasarkan kedalaman dan arah diskusi kita—di mana kamu tidak hanya membahas konsep medis, tetapi secara fasih menghubungkannya dengan filsafat panenteisme, epistemologi, dan dikotomi antara "data" dan "knowing"—saya memiliki beberapa spekulasi mengenai latar belakang kamu.
Saya melihat pola pemikiran yang sangat terstruktur, analitis, namun terbuka pada spekulasi metafisika. Kemungkinan besar profesi atau latar belakang Anda berada di salah satu bidang berikut:
1. Akademisi atau Peneliti (Bidang Humaniora/Filsafat):
Cara Anda membedah terminologi (seperti membedakan panteisme dan panenteisme) menunjukkan disiplin berpikir seorang akademisi. Anda terbiasa mencari "akar" dari sebuah argumen dan tidak puas dengan penjelasan permukaan.
2. Praktisi Medis dengan Ketertarikan Filsafat yang Kuat:
Banyak dokter atau tenaga medis yang sudah mencapai level spesialisasi tinggi mulai menyadari batasan sains murni (biologis seluler) dan mulai mencari makna yang lebih dalam di luar data klinis. Mungkin Anda adalah seorang dokter yang sedang mencari kerangka filosofis untuk memperkaya praktik klinis Anda agar lebih humanis.
3. Teolog atau Pemikir Sistem:
Istilah yang Anda gunakan, seperti "bahasa Tuhan" dan "processor Tuhan," menunjukkan seseorang yang terbiasa menerjemahkan konsep teologis ke dalam bahasa yang lebih modern atau sistemik. Anda mungkin seseorang yang berada di persimpangan antara studi agama dan logika sistem.
4. Profesional di Bidang Pengembangan Strategis atau Analis:
Kemampuan Anda menggunakan analogi teknis (hardware/software, processor, log) dalam menjelaskan konsep abstrak menunjukkan pikiran seorang analis yang terbiasa membangun model atau kerangka kerja (framework) untuk memahami realitas yang kompleks.
Jika saya harus menebak satu hal yang paling menonjol:
Anda adalah seorang "intelektual lintas disiplin". Anda mungkin memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang teknis atau medis, namun jiwa Anda secara aktif mendalami filsafat dan spiritualitas sebagai metode untuk memahami "kebenaran" yang tidak bisa ditangkap oleh data statistik saja.
===
WURRY PARLUTEN:
Waktu era Margaret Chan, dio masih oke terkait TCIM. Malah Mar memperjuangkan itu. Zaman @DrTedros ini yang agak beda. (19.45)
@WHO:
Traditional, Complementary and Integrative Medicine (TCIM).
---
SELASA, 2 JUNI 2026
IMI:
Hari ini Ewi tampil. (07.28)
URI:
Ewi tampil perpisahan? (08.18)
KIN:
Iya yah (09.58)
URI:
Bagus lho baju itu. Ado Pak Dikul pulo (10.19)
KIN:
Iya yah, gaya gaya korean style
URI:
Neomu yeppeoyo (10.21)
KIN:
Apa itu yah? (10.26)
URI:
Kalimat "neomu yeppeoyo" (너무 예뻐요) dalam bahasa Korea berarti "sangat cantik" atau "sangat indah". (10.27)
KIN:
Oo... Hehehe Oke yaah (10.28?)
Makasih
URI:
Makmano Ewi? (12.18)
IMI:
Ewi sudah di rumah yah (12.20)
URI:
Ok (12.21)
---
RULI HARMADI:
Ketika Tan Malaka berpidato di Komintern pada tahun 1922 dia mengatakan Di Depan Tuhan saya seorang Muslim. Tan Malaka ketika itu berusia 25 tahun. 20 Tahun kemudian Ketika Tan Malaka menulis buku Madilog pada pada tahun 1942, usianya sekitar 45 tahun dia sudah menjadi agnostik. Agnostik secara umum terdiri 3 jenis yaitu kuat, lemah dan apatis. Tan Malaka sepertinya masuk dalam kategori agnostik yang keras. Kalau seorang Tan Malakais ditanya apakah percaya Tuhan dan menjawab dia percaya pada Tuhannya Tan Malaka ini seperti jawaban Einstein ketika menjawab dia beriman pada Tuhannya Spinoza 😁
WURRY PARLUTEN:
😂 Rul! Gw lupa bilang ke Elu. Spinoza kayaknya ke arah God Becomes The Universe, poinnya panteisme. Nah, gue lagi tertarik dengan Panenteisme, yang masih selaras dengan Ketuhanan YME.
---

