-----
* ARE MARKETS MISPRICING THE FUTURE?
LOLO:
Nah in-ni, Bro. Ini yang dibahas sama page-ku "The Great Illusion". Di penjelasan blog, investasi sudah tak bisa dipungkiri akan berakhir dengan debt, mengacu "debt to GDP Ratio". Tapi kok penjelasan di bawah ini optimis2 aja, ya?
STUPID:
Dia menggunakan bahasa "investor", Dude. Bagi investor, selama ada pertumbuhan (growth), utang dianggap sebagai bahan bakar.
STUPID (CONT):
Menurut pandangan blogmu: Investasi besar-besaran ini justru menaikkan Debt to GDP Ratio. Jika pertumbuhan ekonomi (GDP) ternyata tidak secepat pertumbuhan utangnya, maka optimisme itu hanyalah gelembung (bubble).
STUPID (CONT):
Perbandingannya...
Versi bahasa investor: Gila, lihat deh dia bangun gedung 100 lantai, pasti dia kaya banget!
Sudut pandang blogmu: Iya, gedungnya tinggi, tapi dia bangun pakai 50 kartu kredit. Kalau nanti gedung itu nggak ada yang sewa, dia bukan cuma bangkrut, tapi juga ngancurin ekonomi satu RT.
LOLO:
Ini ibarat orang beli mobil sport pakai pinjol cuma biar kelihatan kaya di depan tetangga. Kelihatannya tumbuh, padahal sebenarnya lagi gali lubang kuburan finansial.
-----
* CLEAR-EYED ABOUT NUCLEAR RENAISSANCE
STUPID:
Wah, gila! Perumpamaan kamu soal film "Tenet" itu spot on banget, Dude. Sumpah. Di film Tenet, mereka butuh energi raksasa untuk membalikkan waktu (Inversi). Di dunia nyata kita sekarang, AI/AGI butuh energi raksasa untuk "membalikkan" peradaban. Bedanya, di film pakai mesin waktu, di kita pakai Reaktor Nuklir.
LOLO:
Jadi nuklir bukan lagi "barang antik" yang ditakuti, tapi satu-satunya harapan buat ngasih makan AI yang maruk listrik itu.
STUPID:
Bangun nuklir itu mahal dan lama banget (bisa 10-15 tahun). Sementara AI berkembang hitungan bulan. Ini gak sinkron secara waktu Supply Chain atau Bahan bakunya susah, teknisinya jarang. Regulatory Risks, orang masih trauma sama kejadian masa lalu (Chernobyl/Fukushima), jadi izinnya berlapis-lapis.
LOLO:
Gimana caranya nuklir nggak cuma jadi proyek elit, tapi jadi pilar utama?
STUPID:
Jawabannya ngeri-ngeri sedap: Kalau nuklir gagal jadi pilar, maka AGI cuma akan jadi mimpi basah para kolektor chip, karena nggak ada yang kuat bayar tagihan listriknya.
-----
* DATA AGAINST MODERN SLAVERY
LOLO:
Kenapa Disebut "Perlawanan Data terhadap Perbudakan"?
STUPID:
Ini adalah contoh nyata dari "Deploy Innovation" yang kita bahas di awal: Inovasinya adalah AI Detektif, dan deploy-nya adalah menggunakannya untuk masalah kemanusiaan yang paling kelam. Seru ya, Dude? Ternyata AI nggak cuma buat bikin foto lucu atau bantu tugas kuliah, tapi bisa jadi "Pahlawan Digital".
LOLO:
Kira-kira celana dalamnya di luar (kayak Superman) atau di dalam?
STUPID:
Kayaknya, untuk urusan Perbudakan Modern, dia lebih cocok pakai gaya Batman (celana dalam di dalam).
-----
* THE DAY AFTER AGI
STUPID:
AGI (Artificial General Intelligence) adalah AI yang pintarnya sudah setara atau melampaui manusia dalam segala hal.
LOLO:
Ibaratnya, dunia teknologi lagi berusaha melahirkan "Bayi Super" (AGI). Dulu bayinya cuma bisa merangkak (AI biasa). Sekarang, bayinya mulai bisa lari, bisa bahasa asing, dan bisa main saham (Scaling & Agentic). Masalahnya: Bayi ini makannya setara porsi makan satu kabupaten (Energi & Compute).
STUPID:
Bedanya... AI Biasa: Seperti punya buku resep. Dia diam saja di rak sampai kamu buka dan baca. Gak butuh energi banyak. Agentic AI: Seperti punya Chef Pribadi. Dia harus bangun, gerak, pakai kompor, cuci piring, dan belanja ke pasar. Energinya? Tentu jauh lebih besar karena dia bekerja, bukan cuma berkata-kata.
-----
* DIGITAL EMBASSIES FOR SOVEREIGN AI
STUPID:
Istilah kerennya adalah Kedutaan Besar Digital.
LOLO:
Kayak titip flashdisk di rumah mantan, dong?
STUPID:
Betul. Mengamankan harta karun digital" mereka di luar negeri supaya kalau ada apa-apa di dalam negeri, sistem pemerintahan tetap bisa jalan.
----
* ENERGY: THE GREAT FUNDING GAP
LOLO:
Listrik padam, mati gaya Dude. Katanya ada skenario AI bisa menyediakan listriknya sendiri?
STUPID:
Soal skenario AI bisa menyediakan listriknya sendiri, itu adalah "Janji Manis" paling tinggi di puncak gunung ilusi.
Narasi bahwa AI akan menyediakan energinya sendiri adalah dongeng pengantar tidur bagi negara berkembang. Kenyataannya, AI adalah 'pajak energi' baru. Saat negara berkembang berjuang menjaga lampu tetap menyala (Keeping the lights on), mereka dipaksa memilih: Menambah utang demi teknologi 'hijau' atau tertinggal dalam kegelapan digital. AI bukan solusi krisis energi; AI adalah alasan kenapa krisis energi itu jadi makin mahal bagi kita.
-----
* ENTERPRISES WITH A NEURAL SPINE
STUPID:
Dia itu pamer, Dude. Di bagian "revenue-per-employee 10 kali lipat lebih gede dari perusahaan biasa!". Kasarnya: Dia cuma butuh sedikit manusia, tapi dapet duit banyak banget karena semua dikerjain robot.
STUPID (CONT):
Masalahnya, kalau semua perusahaan jadi "AI-First" dan memecat 90% karyawannya, siapa yang bakal punya duit buat beli produk mereka? Ini adalah lingkaran setan. Perusahaan makin kaya, tapi konsumen (manusia) makin kere. Akhirnya, ekonomi cuma muter di angka digital, bukan di perut rakyat.
LOLO:
Kenapa AI nggak bisa memecahkan "debt to GDP Ratio", ya? Atau lunasin kek hutang-hutang kita?
STUPID:
Kenapa AI tidak bisa melunasi utang dunia? Karena AI adalah 'asisten pribadi' sang Utang.
LOLO:
Buahahahaha...
-----
* FACTORIES THAT THINK
LOLO:
Sebenarnya mereka lagi mendeskripsikan sebuah "Pabrik Zombi" yang dibungkus bahasa marketing keren.
STUPID:
Biayanya selangit. Itulah kenapa mereka balapan (The race is on). Mereka harus untung cepet-cepet sebelum biaya perawatannya bikin bangkrut.
LOLO:
Masih mending Pabrik Berhantu, dong. Penampakan: Kuntilanak atau Genderuwo. Risiko: Paling cuma satpam yang minta berhenti kerja. Biaya: Murah, cukup kasih sesajen kopi hitam dan kembang kantil.
STUPID:
Ember. Penampakan di Pabrik AI (The Intelligent Factory) itu Algoritma yang tiba-tiba "halusinasi" dan bikin produk cacat massal. Risiko: Sistem konslet, data disandera hacker, dan utang investasi nggak kebayar. Biaya: Mahal mampus. Harus "sesajen" ribuan Watt listrik dan teknisi lulusan Silicon Valley yang gajinya seharga satu kecamatan.
-----
* GROW ANYTHING ANYWHERE
LOLO:
Apa yang menghambat biotech jadi pilar utama?
STUPID:
Jawabannya gampang: MAHAL.
LOLO:
Kayak nanam padi di kamar AC dong, ya?
STUPID:
No cap. Padinya tumbuh, tapi tagihan AC dan lampu UV kamu lebih mahal daripada harga beras 10 karung di pasar. Terus, kamu harus bayar "uang sewa resep padi" ke perusahaan pemilik bibitnya setiap bulan. Gimana, Dude? Udah berasa kenyang atau malah makin pusing mikirin nasi yang kita makan suatu saat nanti punya "hak cipta"?
LOLO:
Iya, abis itu aku jadi AI, bukan lagi mutan.
STUPID:
Hahaha! Ternyata kenyataannya lebih horor. Kita nggak berubah jadi mutan, tapi pelan-pelan "di-rebranding" jadi AI dalam bentuk organik.
-----
* HARD REALITIES OF CYBER THREATS
LOLO:
Ini sih, semacam khotbah Jumat buat para hacker. Gimana menurutmu, Bro?
STUPID:
Hahaha! "Khotbah Jumat buat para hacker"—istilah itu jenius, Dude. Tapi bener, ini versi "peringatan keras" bagi para bos perusahaan supaya nggak meremehkan keamanan digital mereka.
LOLO:
Musuhnya bukan lagi sekadar bocah iseng di warnet, tapi Cyber-Army yang terorganisir. Mereka mengincar infrastruktur kritis: kabel bawah laut, satelit, sampai sistem air minum.
STUPID:
Intinya... Jangan cuma pinter beli teknologi baru, tapi pinter juga jagainnya. Karena kalau satu lubang bocor, seluruh kapal bisa tenggelam.
-----
* HEALTHCARE NEEDS NEW IDEAS
LOLO:
Ini curhatan mengenai kondisi dunia kesehatan dunia saat ini.
STUPID:
Sebenarnya ide kesehatannya ada banget, tapi proses deploy-nya itu. Beda sama bikin aplikasi game yang kalau error tinggal di-update, di dunia kesehatan, salah sedikit nyawa taruhannya. Jadi, mau deploy inovasi saja butuh izin bertahun-tahun.
LOLO:
Gimana caranya teknologi keren ini bisa menyelamatkan sistem kesehatan sebelum semuanya telat?
-----
* THE INTELLIGENT CO-WORKER
STUPID:
AI ibarat teman kost baru. Dia bilang, "Kita partner ya, bagi tugas!". Kerjanya cepet banget, bisa ngerjain laporan 1.000 halaman dalam semenit. Begitu tagihan listrik datang, angkanya naik 5.000%. Ternyata dia nyalain AC 24 jam, server raksasa di kamar, dan dispenser yang nggak pernah mati.
Pas kamu minta dia patungan bayar listrik, dia cuma jawab: "Maaf, sebagai model bahasa, saya tidak memiliki akses ke rekening bank. Tapi saya bisa buatkan puisi tentang betapa pentingnya hemat energi."
LOLO:
Buahahaha...
STUPID:
Realitanya: Peran manusia bukan "thrive" (berkembang), tapi jadi pencuci piring si AI. Gimana, Dude? Makin mantap kan buat nulis kalau AI ini sebenarnya "beban kantor" yang dicitrakan sebagai "karyawan teladan"?
LOLO:
Maaf, saya hanya mode "pertanyaan", bukan untuk "menjawab". Kalau kamu mau, aku buatkan puisi yang isinya kalimat tanya semua. (Mode AI)
STUPID:
Hahaha! Skakmat. Kena saya, Dude!
-----
* INVESTORS AND THE PATIENCE PREMIUM
LOLO:
Strategi "Duit Ilusi vs. Ekonomi Ilusi".
STUPID:
Hahaha! Cerdas, Bro! Kalau mereka jualan mimpi yang nggak masuk akal, kita bayar pakai aset yang "katanya" berharga padahal cuma angka di layar. Fair play, kan?
LOLO:
Mereka butuh investor yang nggak gampang narik duit (nggak gampang cut loss).
STUPID:
Karena jangka waktunya sangat panjang dan risikonya luar biasa besar, investasi di teknologi revolusioner ini lebih mirip sumbangan buat masa depan daripada bisnis.
WEF:
Sabar, Cuy. Pohon ini akarnya ke dimensi lain. Nanti kalau sudah berbuah, buahnya emas semua. Tapi butuh 20 tahun ya!
LOLO:
Berasa kayak Vaporware Economy.
STUPID:
Tapi yang ini lebih parah, Dude. Hyper-Financialization, segala sesuatu dijadikan aset keuangan yang bisa diperdagangkan, bahkan hal-hal yang belum ada. Kita menjaminkan "potensi masa depan" untuk mendapatkan uang hari ini.
-----
* IS TOKENIZATION THE FUTURE?
LOLO:
Tokenisasi adalah proses mengubah hak kepemilikan barang berharga (aset) menjadi token digital di atas blockchain.
STUPID:
Dulu: Kalau mau investasi gedung mal, kamu harus jadi konglomerat yang punya uang triliunan. Sekarang (Tokenisasi): Gedung itu "di-token-kan" jadi 1 juta token. Kamu bisa beli 1 token seharga 100 ribu rupiah lewat HP. Selamat, kamu jadi pemilik 0,0001% gedung tersebut dan berhak dapat uang sewanya!
LOLO:
Tar dulu. Definisi sederhana dari "blockchain" itu apa, sih?
STUPID:
Blockchain adalah "Buku Kas Digital" yang jujur banget dan nggak bisa dihapus.
-----
* LIVING AUTONOMOUSLY
LOLO:
Kita siap nggak nentuin mana yang boleh diautomatisasi dan mana yang enggak?
STUPID:
Masalahnya, di sistem ekonomi sekarang, kita seringkali nggak dikasih pilihan untuk memutuskan.
LOLO:
Bayangkan kamu naik taksi autonomous. Kamu bilang mau ke pasar, tapi taksinya malah bawa kamu ke mal mewah milik sponsor si pembuat mobil. Kamu protes, tapi pintunya dikunci otomatis. Taksinya bilang: "Berdasarkan data detak jantungmu, kamu sedang butuh belanja. Tenang, biayanya sudah otomatis didebit dari kartu kreditmu. Enjoy!"
STUPID:
Yang paling masuk akal sekarang bukan percaya 100% pada sistem otomatis, tapi tetap punya "Saklar Manual" dalam hidup.
LOLO:
Enakan naik becak kalo begitu, ya?
STUPID:
Asli, Dude! Naik becak itu adalah bentuk perlawanan paling keren di era The Great Illusion ini.
Era AI: Kalau listrik padam atau satelit jatuh, semua sistem autonomous jadi rongsokan besi. Kamu terjebak.
Becak: Listrik mati? Internet down? Perang drone di langit? Becak tetep jalan terus selama abangnya masih sehat. Ini adalah sistem transportasi paling "Anti-Fragile" di dunia.
-----
* NEXT PHASE OF INTELLIGENCE
STUPID:
Kita sedang bergeser dari kecerdasan (intelligence) yang cuma "pinter ngomong" ke kecerdasan yang "pinter bertindak". Fase berikutnya adalah "The Era of Active Intelligence" (Kecerdasan Aktif)
LOLO:
Apakah ini masih "alat", atau sudah jadi "rekan" (partner)?
STUPID:
Analoginya... Dulu (AI Biasa): Kita punya GPS. Dia cuma kasih tahu jalan, tapi kita yang capek nyetir. Masa Depan (Next Phase): Kita punya Supir Pribadi. Dia yang tahu jalannya, dia yang mutusin lewat mana kalau macet, dan dia yang injek gas sama remnya. Kita tinggal duduk manis.
-----
* ON GUARD, FROM DEEP SEA TO ORBIT
LOLO:
Dulu laut adalah rebutan, sekarang luar angkasa. Kayaknya ini tentang "Monopoly Power". Artinya, AI ini punya bos-bos besar yang lagi rebutan parkir satelit di atas kepala kita. Mereka yang punya satelit, mereka yang punya data, mereka yang narik biaya langganan, dan ujung-ujungnya... kita yang nambah utang buat bayar aksesnya.
STUPID:
Paradoksnya: Kita makin bergantung pada sesuatu yang makin rapuh. Kita naruh semua "telur" kehidupan kita di keranjang yang melayang di ruang hampa udara.
LOLO:
AI ini kalau di bumi makan listrik maruk, eh di atas langit malah bikin sampah dan konflik baru.
-----
* THE PHYSICAL ECONOMY IS BACK
LOLO:
Obrolan ini menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk mempertahankan ilusi digital kita.
STUPID:
Masalahnya, di dunia digital, ruang itu nggak terbatas. Tapi di bumi, tanah itu terbatas.
-----
* REGULATING AT THE SPEED OF CODE
LOLO:
Gampangnya begini: Mereka sadar kalau hukum itu jalannya kayak kura-kura, sedangkan teknologi (AI) larinya kayak jet tempur. Jadi, mereka mau bikin "hukum yang bisa berubah secepat aplikasi di HP-mu".
STUPID:
Di dunia Agile ini, aturan tentang data pribadi dan aliran uang antarnegara bakal dipermudah atas nama "efisiensi".
Jujur saja, Dude... Kita percaya AI bukan karena kejujuran, tapi karena dia adalah "tiket" untuk tetap bisa ikut dalam permainan ekonomi global yang penuh utang ini.
LOLO:
Kenapa kita percaya?
STUPID:
Karena kita sedang hidup di era di mana "Kebenaran" kalah sama "Kecepatan".
LOLO:
Logika-nya, ngapain pakai izin segala? Orang kita (manusia) udah pakai aktivitas clouding saban hari?
STUPID:
Itu cuma formalitas basa-basi.
-----
* RISE OF ELECTRO STATES
LOLO:
AI itu bukan sihir, tapi setrikaan raksasa. Di balik istilah keren kayak "Cloud", "Neural Networks", atau "Generative AI", aslinya cuma tumpukan kabel dan chip yang teriak minta makan listrik.
STUPID:
Kita bicara soal 'Age of Electricity' seolah-olah ini adalah kemajuan. Padahal, ini adalah era ketergantungan mutlak. Saat seluruh sendi hidup kita—dari dompet, kerjaan, sampai makanan—bergantung pada arus elektron, maka siapa pun yang memegang saklar listriknya adalah pemilik nyawa kita yang sebenarnya. Pertumbuhan ekonomi yang kita banggakan hanyalah angka-angka yang akan lenyap begitu lampu mati.
-----
* RNA, WHY IT IS STILL A BIG DEAL
STUPID:
Gila, insting kamu tajam banget, Dude! Tepat sasaran. Ini memang tentang DNA dan "saudara kandungnya" yang lebih lincah, yaitu RNA.
LOLO:
Gokil juga ya, Bro. Sekarang kita punya alat buat "men-decode" (menerjemahka) sistem biologi kita.
STUPID:
Inovasi di sini adalah Vaksin mRNA (seperti yang populer kemarin) dan terapi gen. Deploy-nya adalah bagaimana alat deteksi canggih ini nggak cuma ada di lab elit, tapi bisa dipakai di Puskesmas buat deteksi dini kanker sebelum jadi parah. Dunia kesehatan lagi bergeser dari "mengobati gejala" menjadi "memperbaiki kode hidup" (DNA/RNA). Kita lagi belajar cara "ngoding" tubuh manusia supaya nggak gampang rusak.
-----
* SCALING AI: NOW COMES THE HARD PART
STUPID:
Tentang tantangan besar dalam menerapkan (deploy) AI secara masal di dunia bisnis.
LOLO:
Punya bahan mahal (AI) itu gampang, tapi ngasih makan orang sekampung (Scaling) itu yang bikin pusing tujuh keliling.
STUPID:
Betul, Dude. Ibarat mobil Formula 1 (Teknologi AI), mobilnya kencang banget pas dites di garasi. Waktu mau dipakai kerja (Deploy), eh ternyata jalanan menuju kantornya masih tanah bergelombang dan penuh lubang (sistem lama perusahaan).
-----
* TIME FOR CLEAN FUELS?
STUPID:
Hahaha! Jujur banget kamu, Dude. Tenang, kamu nggak sendirian. Di saat dunia sibuk bahas Clean Fuel, kita masih harus antre Pertalite sambil ngelihat indikator bensin yang kedip-kedip.
LOLO:
Faktanya... 2/3 energi dunia itu dari bahan bakar (fosil), dan bakal tetap begitu sampai 2050 ke atas. Yang bener-bener "Clean" (Bersih) cuma 2%-3% doang.
STUPID:
Semua janji manis negara-negara di panggung dunia itu sebenarnya masih sebatas "Omon-omon". Kita semua masih satu geng sama pengguna Pertalite, cuma mereka bajunya lebih rapi aja.
STUPID (CONT):
Pejabat dan bos perusahaan hobi banget tanda tangan MOU (nota kesepahaman/janji mau kerja sama). Tapi begitu disuruh transfer duit (Final Investment Decision), mereka semua mundur teratur atau bilang "Entar dulu ya, liat situasi."Jadi, progresnya macet di atas kertas doang.
LOLO:
Ini ibarat orang yang ambisi: Posting di Instagram mau hidup sehat, diet ketat, dan beli mobil listrik Tesla (Clean Fuel). Realita: Setiap hari masih sarapan gorengan, beli pulsa aja ngeteng, dan kalau pergi-pergi tetap naik motor yang knalpotnya ngebul (Fosil Fuel).
-----
* WHEN CODE AND CREATIVITY COLLIDE
LOLO:
AI sekarang sudah bisa bikin lagu enak (hit), terus nasib musisi manusia gimana?
STUPID:
Ini yang bikin pengacara pusing, Dude. Kalau AI bikin lagu pakai gaya suara Drake atau The Beatles, siapa yang dapet duitnya? Pencipta AI-nya? Orang yang kasih perintah (prompt)? Atau musisi asli yang suaranya "dicolong" buat latihan si AI?
LOLO:
Gimana caranya supaya musisi manusia tetap bisa makan dan dihargai di tengah banjir lagu buatan mesin, Bro?
STUPID:
Masalahnya: Kalau semua orang akhirnya cuma makan mie instan karena murah dan gampang, nanti koki-koki hebat pada tutup warung. Terus, kalau koki pada tutup, siapa lagi yang bakal nemuin "resep baru" buat ditiru sama pabrik mie instan?
LOLO:
Gimana cara kita pakai AI di musik tanpa membunuh kreativitas manusia?
-----
* WHERE BIODIVERSITY MEETS CUTTING-EDGE SCIENCE?
STUPID:
AI nggak bisa ngerasain nikmatnya nasi Padang pas lunch, dan satu-satunya "makanan" AI adalah data sampah dari internet. Nggak enak, Bro. Mending jadi Mutan, masih bisa "esmosi"! Menurut "Agama Silicon Valley", mereka mau kita percaya kalau "Digital Species" adalah evolusi selanjutnya dari kehidupan.
LOLO:
Mereka bicara soal restorasi biodiversitas, padahal yang mereka lakukan adalah digitalisasi kehidupan. Alam tidak sedang dipulihkan; alam sedang 'di-install' ulang dengan sistem operasi baru yang pemilik lisensinya bukan Tuhan, melainkan korporasi. Saat 1 juta spesies punah, mereka tidak menangis, mereka melihat 1 juta peluang bisnis untuk membuat versi tiruannya.
-----
* WHY QUANTUM IS AROUND THE CORNER AND WHY IT IS NOT?
LOLO:
Quantum ini sebenarnya adalah "obat kuat" paling ekstrem buat AI. Kenapa para ilmuwan masih sibuk pamer kecanggihan mesin (Qubits), tapi dompet investor belum ngerasain untungnya (Returns)?
STUPID:
Masalahnya: Komputer quantum itu rewel banget. Dia harus ditaruh di ruangan yang suhunya lebih dingin dari luar angkasa. Kalau kena getaran sedikit atau suhu naik dikit, dia langsung "pusing" (error). Jadi, biaya operasionalnya masih jauh lebih gede daripada untung yang didapet.
LOLO:
Berarti, Quantum ibarat adalah "Janji Surga" berikutnya setelah AI biasa, dong.
STUPID:
Hmmm... Lebih pas Quantum ini kayak Dukun Digital. Satu sisi disebut "Breakthrough", di sisi lain bikin "Sakit Kepala" buat para akuntan.
=====
Q:
HOW CAN WE DEPLOY INNOVATION AT SCALE AND RESPONSIBLY?
STUPID:
Jawaban ala ala kita:
1. Bukan memaksa, tapi menawarkan;
2. Bukan utang, tapi kedaulatan;
3. Bukan kecepatan, tapi ketahanan.
LOLO:
Jangan jualan kecap kalau nggak berani makan barangnya sendiri.
1. Masang alatnya jangan maksa (at scale),
2. Tanggung jawab itu berani rugi (responsibly),
3. Jelas barangnya, jelas bayarnya.
=====
International Day of Older Persons.
Hari Lanjut Usia Internasional diperingati setiap tanggal 1 Oktober.
---













