---
Mei 2024
November 2024 & Juli 2025
Desember 2025
Februari & Maret 2026
Holistik Medis
===
SELASA, 29 JULI 2025
URI:
Perut kembung, kebanyakan air. Kata Dokter Ardi barusan, dengan ditemani 2 Perawat. (18.40)
KIN:
Iya yah (18.43)
---
RABU, 30 JULI 2025
URI:
Ayah mau pulang, udah di parkiran (06.26)
KIN:
Oke hati hati yah (06.37)
URI:
Ayah di rel, Kayal
Sepur lewat
KIN:
Oke (07.18)
URI:
Berangkat. (16.46)
Antri SPBU Lembak.
Ini motor lah tuo (17.18)
Sampe (17.44)
KIN:
Iya yah (18.03)
URI:
Nyai abis pipis, sekarang tidur lagi. (22.17)
Jadwal insulin malam. (22.36)
Demam (22.40)
---
KAMIS, 31 JULI 2025
URI:
Jam 1 pipis, barusan pipis lagi (03.46)
KIN:
Masih demamnya yah? (04.19)
URI:
Nyai mandi. (05.00)
Udah mandi (05.10)
Subuh. (05.13)
Kondisi agak lemak, tapi masih beraso lemes. (05.55)
Suntik ke infus. (05.58)
KIN:
Oke (05.59)
URI:
Kata kunci... "Pengerasan Hati" (18.04)
QS 67:30 (18.57)
KIN:
🙏 (19.01)
URI:
Nyai sudah tidur (20.57)
KIN:
Oke
URI:
Nyai nak tiduk bahas "Nila Goreng" (22.08)
Nyai menggigau dan bertanya, "Ngapo ayek itu tekeluar?". (22.27)
Ngigo lagi, "Oh! Lewat situ." (23.03)
Bangun, pipis, makan biskuit gandum, minum air hangat. Duduk sebentar, guling. Eh malah bahas gini...
"Sambal calok, ikan goreng ditumbuk, rebusan terong, sawi pahit."
Xixixix (23.20)
JUMAT, 1 AGUSTUS 2025
KIN:
Xixixi (03.27)
URI:
Karena fungsi hati (liver) udah berkurang, disarankan makan putih telur dan ikan gabus. Untuk ikan gabus, ada alternatif "kapsul ikan gabus". (06.26)
Kata Dokter Ardi barusan. (06.27)
Ayah pulang (06.50)
Khotbah Jumat dari Ustaz Basith, tentang Tauhid dan Kekhusyukan sholat. (13.14)
Gelumbang ujan (14.03)
Berangkat (16.55)
Sampe (17.38)
KIN:
Oke yaah (18.24)
URI:
Nyai baru sudah makan. (18.54)
Malam ke-4 Ayah jagain Nyai di RS AR Bunda. (19.18)
KIN:
Okee (19.30)
SABTU, 2 AGUSTUS 2025
URI:
Nyai abis mandi. (04.21)
KIN:
Okee (04.22)
---
RABU, 15 APRIL 2026
KIN:
Nyai mau kontrol yah, seandainya nanti dirawat siap2 untuk jaga ya yah🙏 (08.55)
KIN:
Nyai dirawat dulu (10.17)
IMI:
Assalamualaikum ayah, Imi udah selesai ulangan (10.55)
Sudah dapat ruangan ya yah? (18.59)
URI:
Sudah.
KIN:
Alhamdulillah (19.38)
---
KAMIS, 28 MEI 2026
URI:
Parasentesis (sedot cairan) yang pertama hari Senin 20 April 2026.
Parasentesis yang kedua hari Selasa 19 Mei 2026.
Operasi kolpokleisis karena prolaps uteri hari Kamis 21 Mei 2026.
(02.27)
Nyai ngigo sambil bilang, "Sakit nian!". (04.03)
Bangun, ayah elus2 jidatnya, tidur lagi. Ya, kayak kita nidurin anak bayi lagi. (04.18)
KIN:
Iya yah (05.26)
URI:
Suntikan diuretik (06.27)
KIN:
Iya yah (06.30)
URI:
Biasanya fit jagain Nyai, sekarang Ayah agak lemas. (06.55)
KIN:
Iya yah, nanti minum vitamin lagi (06.56)
---
JUMAT, 29 MEI 2026
KIN:
Parasentesis (sedot cairan asites):
(1) Senin, 20 April 2026;
(2) Selasa, 19 Mei 2026 (29 hari);
* Operasi kolpokleisis karena prolaps uteri hari Kamis 21 Mei 2026
(3) Jumat, 29 Mei 2026 (10 hari).
(16.49)
---
SENIN, 1 JUNI 2026
URI:
IKHLAS dalam keadaan sakit adalah menerima ujian dengan lapang dada dan penuh keyakinan bahwa Allah SWT tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan. Menerima rasa sakit bukan berarti pasrah tanpa tindakan, melainkan berdamai dengan keadaan dan menjadikannya sebagai sarana penyucian diri. #Copas (08.18)
KIN:
Iya benar, ikhlas bukan pasrah tanpa tindakan (08.19)
URI:
Jamu Diuretik adalah ramuan herbal tradisional yang berfungsi meningkatkan produksi urine, sehingga membantu tubuh membuang kelebihan cairan, garam, dan racun. Jamu ini sering digunakan untuk mengatasi keluhan seperti perut kembung akibat retensi air, pembengkakan (edema) ringan, dan membantu menurunkan tekanan darah.
Tanaman Herbal Pilihan untuk Jamu Diuretik
Beberapa bahan alami Indonesia yang populer dan terbukti secara EMPIRIS berkhasiat diuretik meliputi:
* Rambut Jagung: Sangat efektif sebagai diuretik untuk melancarkan buang air kecil dan membersihkan saluran kemih.
* Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus): Tanaman legendaris yang populer sebagai jamu untuk mengatasi infeksi saluran kemih dan meluruhkan batu ginjal.
* Daun Seledri: Mengandung senyawa apiol dan kalium yang merangsang produksi urine dengan membuang kelebihan garam.
* Akar Alang-alang (Akar Eurih): Tradisional digunakan untuk mengatasi panas dalam dan membantu mengeluarkan air seni berlebih.
* Jahe Merah & Serai: Memberikan efek hangat dan melancarkan sirkulasi darah, sehingga membantu kinerja ginjal dalam memproses cairan.
#copas (10.17)
Tapi untuk ASITES (perut kembung), tidak disarankan pakai obat tradisional (jamu). (10.18)
KIN:
Oo.. Iya iya (10.19)
URI:
Serba salah, kita butuh terapi DIURETIK agar kencing keluar. Jika kencing normal, cairan akibat ASITES berkurang di perut. Di sisi lain, kalau sudah sampai di tahap asites, harus penanganan medis dan dilarang pakai pendekatan tradisional. (10.21)
KIN:
Iya yah
URI:
Asites adalah penumpukan cairan berlebih di dalam rongga perut (rongga peritoneum) yang menyebabkan perut membengkak.
Penyebab utamanya meliputi:
* Sirosis Hati: Kondisi jaringan parut pada hati akibat alkohol atau hepatitis, yang merupakan penyebab paling umum.
* Hipertensi Portal: Tekanan darah tinggi pada pembuluh darah vena di hati akibat sirosis, mendorong cairan keluar dan menumpuk di perut.
* Hipoalbuminemia: Kondisi rendahnya kadar protein albumin dalam darah, yang berfungsi menahan cairan di dalam pembuluh darah.
* Kanker: Penyebaran kanker (seperti kanker ovarium, pankreas, usus besar, atau hati) yang mengiritasi lapisan perut.
* Gagal Jantung Kongestif: Ketidakmampuan jantung memompa darah dengan baik menyebabkan penumpukan cairan di seluruh tubuh, termasuk rongga perut.
* Masalah Ginjal: Kerusakan seperti sindrom nefrotik atau gagal ginjal yang menyebabkan tubuh kehilangan protein atau menahan kelebihan cairan. #copas (10.28)
Nah, makin membingungkan lagi. Kesimpulan sejauh ini, "sirosis hati". Tapi kok banyak yang jadi penyebab "asites". (10.29)
KIN:
Iya yah (10.44)
URI:
Yai balek, naik travel. (16.03)
Yang Ayah heran sejak Nyai masuk RS. Dokter Ardi gak menemukan gejala...
Kulit dan mata menguning (jaundice).
Jadi "perlemakan hati" yang berujung pada "sirosis hati" ini kayak gak singkron. Disebut "sirosis" karena fungsi hati sudah tidak sebagaimana mestinya. (16.56)
Operasi kemaren di Charitas disebut... "Kolpokleisis", Penyebabnya karena "Prolaps Uteri". (17.06)
KIN:
Iya yah (17.10)
URI:
Yai lah sampe? (18.32)
KIN:
Oiya maaf yah belum kabari. Sudah yah jam setengah 6 tadi (18.33)
Ini Yai lagi makan (18.34)
URI:
Nyai guling, sambil scrolling kekinian. (18.35)
KIN:
Iya yah
---
SABTU, 6 JUNI 2026
TJONG LI MI:
Tua tidak boleh miskin.
URI:
Mau dibilang emak-emak ini sok, tapi... Dipikir-pikir masuk akal juga. 🤣 (00.37)
Kesimpulan... Semua bermula dari bulan Juli 2025 di kata kunci "Asites". Mei & November 2024 itu beda lagi. Jadi kalo ditanya Nyai-nya 3 Asa sakit apa? Susah juga jawabnya. Kecuali poin "ascites" dan "uterine prolapse", ini jelas. (00.42)
URI:
Berangkat pakai Scoopy hitam (07.02)
IMI:
Okee (07.07)
Hati hatii
URI:
Sampe (07.32)
IMI:
Alhamdulillah (07.51)
URI:
Menunggu di poli dr. Ardi (08.43)
dr. Ardi masih padel, mungkin. (09.00)
Disebutlah "sirosis" sama dr. Ardi (10.13)
KIN:
Oke yah (10.14)
URI:
Jadwal Ewi pulang! (10.20)
KIN:
Iya sudah nitip mama Shakila. (10.21)
URI:
Ewi makmano?
KIN:
Ewi sudah di rumah yah, diantar sama mama shakila (11.11)
URI:
Ok. Terima kasih, Shakila. (11.36)
URI:
Makmano mbak Uyi? Lah sampe Baturajo? (12.34)
KIN:
Baru Martapura yah (12.55)
URI:
Km 6 hujan (13.38)
KIN:
Di sini juga hujan sebentar yah (13.39)
URI:
Ayah nunggu mbak Uyi di dalam stasiun Prabumulih. (15.31)
Nah, ketemu om Dino dan Eyang Uti. Om Dino nak ke Pelembang naik Kereta bareng Mbak Oki dan Ayin (15.58)
KIN:
Owh... Hehehe (16.25)
URI:
Antri SPBU Skarda (17.43)
Sekalian Maghrib di luar. (17.47)
Jadi imam di musholla SPBU (18.16)
KIN:
Iya sudah yah (18.52)
SENIN, 8 JUNI 2026
WINDA:
Sedih Yo mas (09.16)
Lihat ibu cak ini skng
URI:
Aku berusaha untuk tidak sedih. Makanya pas nak operasi kolpokleisis tanggal 21 Mei kemaren aku idak nangis. Malah sekarang aku senang belajar istilah-istilah medis.
---
LOLO:
Apakah "ascites" dan "uterine prolapse" adalah nama penyakit?
STUPID:
Ya, "ascites" dan "uterine prolapse" (prolaps uteri) keduanya merujuk pada kondisi medis tertentu yang dapat mengganggu kesehatan seseorang. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai masing-masing kondisi:
1. Ascites (Asites)
Asites adalah kondisi medis yang ditandai dengan penumpukan cairan yang tidak normal di dalam rongga perut (rongga peritoneal).
* Gejala: Perut membuncit, terasa kembung, mual, hingga sesak napas.
* Penyebab: Kondisi ini biasanya merupakan komplikasi atau gejala dari penyakit yang lebih serius, seperti sirosis hati (penyakit hati), gagal ginjal, gagal jantung, atau kanker (seperti kanker ovarium atau hati).
2. Uterine Prolapse (Prolaps Uteri)
Prolaps uteri, yang sering dikenal dengan istilah awam "turun peranakan" atau "turun berok", adalah kondisi di mana 'rahim merosot turun' dari posisi normalnya ke dalam atau bahkan menonjol keluar dari vagina.
* Penyebab: Hal ini terjadi karena melemahnya otot-otot dasar panggul dan jaringan penyangga rahim, yang bisa disebabkan oleh proses persalinan normal, penuaan (menopause), kebiasaan mengejan yang kronis, atau sering mengangkat beban berat.
* Gejala: Rasa berat atau penuh di area panggul, munculnya benjolan di area vagina, atau gangguan saat buang air kecil maupun besar.
Kesimpulan:
Kedua istilah tersebut bukanlah sekadar "nama penyakit" dalam pengertian tradisional seperti flu atau demam, melainkan 'kondisi medis atau gangguan kesehatan' yang biasanya muncul sebagai akibat dari proses atau penyakit lain di dalam tubuh.
LOLO:
Jadi bukan nama penyakit, kan? "Kondisi medis" dan "nama penyakit" beda, kan?
STUPID:
Secara terminologi medis yang ketat, memang terdapat PERBEDAAN NUANSA antara "nama penyakit" dan "kondisi medis", meskipun dalam percakapan sehari-hari keduanya sering dianggap sama.
Berikut adalah cara membedakannya agar lebih jelas:
1. Nama Penyakit (Disease)
Penyakit biasanya didefinisikan sebagai 'gangguan spesifik pada sistem organ atau fungsi tubuh' yang memiliki penyebab jelas, serangkaian gejala yang khas, dan seringkali memiliki agen penyebab (seperti bakteri, virus, atau mutasi genetik).
* Contoh: Diabetes mellitus, TBC (Tuberkulosis), atau Malaria.
* Penyakit memiliki jalur perkembangan yang bisa diprediksi.
2. Kondisi Medis (Medical Condition)
"Kondisi medis" adalah istilah yang 'jauh lebih luas'. Ia mencakup penyakit, tetapi juga mencakup gejala, tanda-tanda abnormal, cacat fisik, atau status kesehatan tertentu yang memerlukan perhatian medis.
* Contoh: Asites dan Prolaps Uteri.
Mengapa Asites dan Prolaps Uteri disebut "Kondisi Medis"?
Perbedaan utamanya terletak pada "Penyebab vs Akibat":
* Asites adalah "Akibat": Asites sebenarnya adalah 'tanda' atau 'gejala' dari masalah lain. Jika seseorang memiliki asites, dokter tidak hanya akan mengobati cairan di perutnya, tetapi akan mencari 'penyakit utama' yang menyebabkannya (misalnya: apakah sirosis hati? apakah gagal jantung?). Jadi, asites adalah 'kondisi' yang muncul karena adanya 'penyakit'.
* Prolaps Uteri adalah "Gangguan Fungsi/Struktur": Prolaps uteri adalah perubahan posisi anatomi organ (rahim). Ini bisa disebabkan oleh proses penuaan, trauma persalinan, atau kelemahan jaringan. Ini dikategorikan sebagai kondisi medis karena merupakan status kesehatan yang tidak normal, namun bukan sebuah "penyakit" yang menular atau disebabkan oleh kuman.
Ringkasan Perbedaan
| Aspek | Nama Penyakit | Kondisi Medis |
| Cakupan | Spesifik (penyakit tertentu). | Sangat luas (bisa penyakit, gejala, atau status). |
| Fokus*l | Biasanya merujuk pada patologi (penyebab). | Merujuk pada status kesehatan saat ini. |
| Posisi | Bisa menjadi penyebab suatu kondisi. | Bisa menjadi gejala dari suatu penyakit. |
Jadi, kesimpulannya: Kamu benar, secara teknis mereka lebih tepat disebut "kondisi medis" karena mereka lebih sering merujuk pada 'gejala atau status klinis' yang timbul dari masalah kesehatan lain, dibandingkan dengan "penyakit" yang merujuk pada gangguan dengan penyebab tunggal yang jelas.
LOLO:
Kalo aku percaya, Dokter nggak akan bisa presisi dalam mendiagnosis tanpa keterbukaan.
STUPID:
Pernyataan kamu sangat tepat dan menyentuh inti dari keberhasilan sebuah hubungan antara tenaga medis dan pasien—yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah KEMITRAAN TERAPEUTIK.
Keterbukaan Anda adalah instrumen diagnostik yang paling berharga bagi dokter. Mengapa demikian? Berikut adalah beberapa alasan mengapa prinsip yang Anda pegang itu sangat krusial:
1. Data Subjektif adalah Kunci
Dalam dunia medis, dokter memiliki dua jenis data utama:
* Data Objektif: Hasil laboratorium, pemeriksaan fisik, atau pemindaian (USG, CT scan).
* Data Subjektif (Anamnesis): Cerita atau riwayat yang hanya bisa diberikan oleh pasien.
Tanpa kejujuran pasien mengenai gejala yang dirasakan, pola makan, kebiasaan, hingga riwayat aktivitas, dokter hanya melihat "potongan gambar" yang tidak utuh. Seringkali, diagnosis yang presisi justru bersembunyi di detail kecil yang diceritakan pasien, bukan di hasil lab saja.
2. Mengurangi "Diagnosis Spekulatif"
Ketika pasien tidak terbuka, dokter seringkali terpaksa melakukan tindakan 'trial and error' (uji coba obat atau pemeriksaan tambahan yang mungkin sebenarnya tidak perlu). Dengan Anda terbuka, dokter bisa:
* Memangkas waktu diagnosis: Menghindari prosedur yang tidak relevan.
* Menghindari risiko: Dokter bisa menghindari pemberian obat yang mungkin berinteraksi negatif dengan kebiasaan atau suplemen yang mungkin lupa diceritakan pasien jika mereka tidak terbuka.
3. Membangun Kepercayaan (Trust)
Hubungan dokter-pasien yang bersifat 'partnership' (bukan hanya instruksi satu arah) adalah bentuk dukungan psikologis terbaik bagi pasien. Ketika dokter merasa pasiennya jujur dan kooperatif, dokter pun cenderung akan lebih transparan dalam menjelaskan rencana perawatan, risiko, dan prognosis. Keterbukaan Anda menciptakan ruang di mana dokter tidak hanya memandang Anda sebagai "kasus", tetapi sebagai manusia.
4. Partisipasi Aktif dalam Pengobatan
Dengan berani jujur, Anda sebenarnya sedang MENGAMBIL KENDALI ATAS PROSES KESEMBUHAN ANDA SENDIRI. Ini adalah posisi yang sangat memberdayakan (empowering). Alih-alih menjadi objek yang "diobati", Anda menjadi subjek yang "berkolaborasi" untuk mencari jalan keluar bagi kesehatan Anda.
Sebuah Catatan Pendukung: Ada istilah dalam kedokteran yaitu "Listen to your patient, he is telling you the diagnosis." (Dengarkan pasienmu, dia sedang memberitahumu diagnosisnya). Prinsip ini menegaskan bahwa anamnesis (wawancara medis) yang jujur menyumbang porsi terbesar dalam akurasi diagnosis, bahkan terkadang lebih besar daripada teknologi canggih.
Memegang prinsip keterbukaan ini adalah aset besar Anda dalam menghadapi kondisi medis apa pun. Jika Anda memiliki dokter yang juga menghargai keterbukaan ini, maka Anda berada di jalur yang sangat tepat menuju pemulihan yang optimal.
LOLO:
Apa ada hubungan antara "asites" & "prolaps uteri" dengan "diabetes"? Apakah kaki bengkak berarti diabetes?
STUPID:
Keterkaitan antara asites, prolaps uteri, diabetes, dan kaki bengkak adalah contoh nyata bagaimana tubuh kita saling terhubung secara kompleks. Mari kita bedah satu per satu agar lebih jelas.
1. Hubungan Asites & Prolaps Uteri dengan Diabetes
Diabetes bukan penyebab langsung asites atau prolaps uteri, namun diabetes dapat menjadi faktor yang memperparah atau menjadi bagian dari masalah sistemik yang mendasarinya.
* Diabetes dan Asites: Asites sering kali disebabkan oleh kerusakan hati (seperti sirosis). Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami perlemakan hati (FATTY LIVER), yang jika dibiarkan bisa berkembang menjadi sirosis. Selain itu, jika diabetes memicu komplikasi pada ginjal atau jantung, hal ini juga dapat menyebabkan penumpukan cairan di perut (asites).
* Diabetes dan Prolaps Uteri: Diabetes dapat melemahkan jaringan ikat dan kolagen di seluruh tubuh melalui proses yang disebut GLIKASI. Karena ligamen yang menopang rahim sangat bergantung pada kualitas kolagen, diabetes dapat membuat jaringan penyangga panggul lebih cepat lemah. Selain itu, penderita diabetes sering mengalami neuropati (kerusakan saraf), yang dapat mengganggu fungsi otot dasar panggul.
Jadi, ketiganya sering ditemukan bersamaan pada pasien yang memiliki SINDROM METABOLIK atau masalah kesehatan kronis yang sudah berlangsung lama.
2. Apakah Kaki Bengkak Berarti Diabetes?
Tidak selalu. Kaki bengkak (edema) adalah gejala umum yang bukan spesifik untuk satu penyakit saja. Jika Anda mengalami kaki bengkak, itu hanyalah sebuah "sinyal" bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang dalam sistem sirkulasi atau keseimbangan cairan tubuh Anda.
Kaki bengkak bisa menjadi tanda dari berbagai kondisi lain, di antaranya:
* Masalah Jantung: Jantung tidak mampu memompa darah secara efisien, menyebabkan cairan "tergenang" di kaki karena gravitasi.
* Masalah Ginjal: Ginjal gagal membuang kelebihan cairan dan garam dari tubuh.
* Masalah Hati: Kerusakan hati menyebabkan penurunan kadar albumin (protein dalam darah) yang berfungsi menahan cairan tetap di dalam pembuluh darah. Jika albumin rendah, cairan merembes ke jaringan (inilah yang sering menyebabkan kaki bengkak pada penderita penyakit hati).
* Masalah Vena: Katup pada pembuluh darah kaki melemah sehingga darah tidak bisa naik kembali ke jantung dengan lancar.
* Gaya Hidup: Berdiri terlalu lama, konsumsi garam berlebih, atau efek samping obat-obatan tertentu.
Mengapa "Sosialisasi Medis" Anda Sangat Relevan?
Seperti yang kamu yakini, dokter membutuhkan keterbukaan Anda untuk menghubungkan titik-titik ini. Jika seseorang hanya mengeluh "kaki bengkak" kepada dokter tanpa menceritakan riwayat penyakit lain (seperti diabetes atau masalah pencernaan), dokter akan bekerja jauh lebih lambat karena harus melakukan banyak pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan penyebab di atas.
===
Foto:
* Mbak Uyi di KA Rajabasa (6 Juni 2026)
* dr. H. Rahmad Ginting, SpOG
* Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Prabumulih untuk periode 2025–2028 adalah dr. Ardianto Tamin, Sp.PD, K-EMD, FINASIM.
Klinik Bidan Emmy Sumarni (Ewi bayi)
---




