---
MINGGU, 13 JULI 2025
URI:
Hari terakhir liburan kenaikan kelas. (00.31)
KIN:
Mbak Uyi ketemu Atina (13.24)
URI:
Lah besak galo, yo? (14.40)
SENIN, 14 JULI 2025
URI:
Liburan telah usai, hari ini kembali ke sekolah. (00.54)
KIN:
Iya yaaah... (07.27)
URI:
Debu kering mulai berasa. Antri di SPBU. (18.46)
URI:
Sejak pulang dari Jakarta, baru inilah ayah keluar rumah. (19.15)
Berarti sudah 3 hari. (19.16)
Yang kita luput, menghitung budget harian pas di Jakarta. Menarik kalo sampe detil budget selama di Jakarta kita hitung. (19.24)
RABU, 16 JULI 2025
URI:
Lokasi "gorong-gorong" sebelum Stasiun Prabumulih. Ayah kalo antar mbak Uyi, suka lewat sini. (19.41)
MINGGU, 20 JULI 2025
URI:
Oh ini Balai Desa Rejosari
Yang pinggir jalan besar (jalan yang Ayah lewati bareng mbak Uyi) itu desa Bumisari, bukan Rejosari.
Stasiun Rejosari, adanya di desa Bumisari. Bukan desa Rejosari.
Rejosari ini kayak Payabakal gitulah, kira-kira.
---
SENIN, 13 JULI 2026
URI:
Makmano hari pertama kelas 6 SD? (06.02)
KIN:
Bangun pagi, mandi, sholat dan sarapan pagi, Yah.
URI:
Masak sekarang sudah ada 8 KECERDASAN? (09.10)
1. IQ (Kecerdasan Berfikir),
2. EQ (Kecerdasan Emosi),
3. SQ (Kecerdasan Spiritual),
4. AQ (Daya Juang Dalam Kesulitan),
5. CQ (Kecerdasan Kreativitas),
6. PQ (Kesehatan & Energi Tubuh),
7. MQ (Kecerdasan Moral),
8. LQ (Kemampuan Belajar).
> Amir Iskandar (Facebook)
KIN:
Iya yah (09.57)
---
SELASA, 14 JULI 2026
URI:
Fotonya hari ini, ya? (14.11)
KIN:
Foto session nya kemaren yah (14.12)
Hasil editannya jadi hari ini
* Kelas 6A, SDN 2 Gelumbang
---
JUMAT, 17 JULI 2026
URI:
Ayah di seberang SDN 2 Gelumbang (10.31)
KIN:
Oke makasih ayah (11.13)
URI:
Ewi sudah di rumah (10.55)
KIN:
Oke yaah (11.13)
URI:
Ayah lah di Nurul Fattah, bareng Yai. (11.25)
KIN:
Iya yah, ibu lah di rumah (11.38)
URI:
International Standard Classification of Teacher Training Programmes, ISCED-T 2021 (11.47)
ISCED adalah kerangka kerja internasional yang dibuat oleh UNESCO untuk mengelompokkan dan membandingkan sistem pendidikan.
Primary school, elementary school, or grade school is a school for primary education of children who are usually 4 to 11 years of age (preschool to fifth grade).
#copas
===
LOLO:
Apa itu "International Standard Classification of Teacher Training Programmes"?
STUPID:
International Standard Classification of Teacher Training Programmes (ISCED-T) adalah sebuah kerangka kerja global yang dikembangkan oleh UNESCO Institute for Statistics (UIS) untuk mengklasifikasikan program pelatihan guru serta kualifikasi yang terkait.
Berikut adalah poin-poin utama untuk memahami apa itu ISCED-T:
* Tujuan Utama: Kerangka ini dirancang untuk mengumpulkan, menyusun, dan menganalisis statistik mengenai pelatihan guru agar dapat dibandingkan antarnegara (komparabilitas lintas negara). Hal ini sangat penting untuk memantau kemajuan global, khususnya target Sustainable Development Goal (SDG) 4.c, yaitu meningkatkan pasokan guru yang berkualifikasi.
* Hubungan dengan ISCED: ISCED-T merupakan pelengkap dari International Standard Classification of Education (ISCED) yang sudah ada. Jika ISCED secara umum mengklasifikasikan program pendidikan berdasarkan tingkat dan bidang, ISCED-T menambahkan dimensi khusus yang relevan dengan pendidikan guru.
* Dimensi Klasifikasi: ISCED-T menilai program pelatihan guru berdasarkan lima dimensi utama:
1. Tingkat pendidikan dari kualifikasi yang diperoleh setelah menyelesaikan program (misalnya: sekunder, pasca-sekunder, atau tersier).
2. Tingkat pengajaran yang menjadi target dari program pelatihan guru tersebut (mulai dari pra-sekolah hingga sekolah menengah atas).
3. Tingkat pendidikan minimum yang disyaratkan untuk masuk ke dalam program pelatihan guru.
4. Durasi teoretis dari program pelatihan guru.
5. (Dimensi praktis tambahan seperti rasio pelatihan praktik).
* Manfaat bagi Kebijakan: Dengan adanya kategori yang disepakati secara internasional ini, negara-negara dapat lebih mudah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan "GURU TERLATIH" dan "GURU BERKUALIFIKASI". Ini membantu pemerintah dalam merancang kebijakan pendidikan yang lebih baik dan memantau standar kualifikasi guru secara lebih akurat.
ISCED-T secara resmi diadopsi pada Konferensi Umum UNESCO ke-41 pada November 2021 dan mulai diimplementasikan untuk pengumpulan data global.
---
LOLO:
Aku masih bingung, yang dimaksud dengan standar global pendidikan itu seperti apa? Apakah dengan mengikuti standar global, berarti siswa/i akan menjadi lebih baik?
STUPID:
Konsep "standar global" dalam pendidikan memang sering terdengar ideal, namun penting untuk memahaminya sebagai bahasa bersama, bukan berarti satu kurikulum yang seragam untuk semua orang di dunia.
Berikut adalah penjelasan untuk mengurai kebingungan tersebut:
Apa Itu Sebenarnya "Standar Global"?
Standar global, seperti ISCED (International Standard Classification of Education) yang kita bahas sebelumnya atau standar penilaian internasional seperti PISA (Programme for International Student Assessment), bukanlah kurikulum atau buku pelajaran.
Ini lebih mirip dengan "sistem pengukuran internasional". Bayangkan jika setiap negara memiliki ukuran berat atau panjang yang berbeda-beda; kita tidak akan bisa melakukan perdagangan internasional. Begitu pula dengan pendidikan:
* Bahasa yang Sama: Standar global memastikan bahwa kualifikasi guru di Indonesia bisa dipahami nilainya di Jerman atau Jepang.
* Tolok Ukur (Benchmark): Standar ini memberikan gambaran tentang apa yang diharapkan dari siswa pada usia tertentu berdasarkan data dari banyak negara yang dianggap sistem pendidikannya maju.
* Transparansi: Standar ini memaksa pemerintah untuk terbuka tentang kualitas pendidikannya. Jika suatu negara memiliki standar nasional yang jauh di bawah rata-rata global, hal itu akan terlihat jelas dalam data, sehingga pemerintah terdorong untuk melakukan perbaikan.
Apakah Mengikuti Standar Global Berarti Siswa Jadi "Lebih Baik"?
Jawabannya: Tidak otomatis. Mengikuti standar global hanyalah sebuah "kompas", bukan "kendaraan".
Berikut adalah alasan mengapa standar global tidak menjamin peningkatan kualitas secara instan:
1. Konteks Lokal yang Unik: Pendidikan yang "baik" harus relevan dengan kebutuhan budaya, ekonomi, dan sosial setempat. Jika sebuah negara hanya mengejar standar internasional tetapi mengabaikan kebutuhan lokal (misalnya keterampilan yang dibutuhkan industri di daerahnya sendiri), siswa mungkin memiliki nilai tinggi di kertas, tetapi tidak siap bekerja.
2. Masalah Implementasi: Memiliki kebijakan yang sesuai standar global itu mudah di atas kertas. Tantangannya adalah pelaksanaan di sekolah pelosok. Jika standar kurikulumnya tinggi, tetapi fasilitas sekolah tidak ada dan guru tidak terlatih, maka standar tersebut justru bisa membuat guru dan siswa stres.
3. Standar vs. Kompetensi: Standar seringkali hanya mengukur hasil akhir (seperti tes). Namun, "siswa yang lebih baik" mencakup hal-hal yang sulit diukur, seperti kreativitas, karakter, kemampuan berkolaborasi, dan kesehatan mental. Standar global sering kali belum mampu menangkap dimensi ini.
Kesimpulan: Mengapa Standar Global Tetap Penting?
Standar global tetap penting karena mencegah isolasi. Tanpa standar global, sebuah sistem pendidikan bisa terus menerus memproduksi lulusan yang tidak relevan dengan dunia yang semakin terhubung.
Siswa menjadi lebih baik bukan karena mereka mengikuti standar global, melainkan karena standar global tersebut membantu pemerintah:
* Mendeteksi kelemahan dalam sistem pengajaran mereka sendiri.
* Belajar dari praktik terbaik (best practices) negara lain.
* Memastikan guru-guru memiliki kualifikasi yang diakui sehingga mereka bisa mengajar dengan standar yang lebih profesional.
Jadi, standar global adalah alat bantu untuk mencapai kualitas, bukan penentu kualitas itu sendiri. Kualitas sebenarnya tetap lahir dari kualitas interaksi antara guru, murid, dan lingkungan belajar di sekolah itu sendiri.
Menurut kamu, apakah sistem pendidikan yang ada saat ini sudah cukup membantu siswa untuk siap menghadapi tantangan di luar sekolah, atau apakah standar yang ada sekarang justru terasa terlalu membebani?
---
LOLO:
Jujur saja, bagi kami yang tinggal di desa, standarisasi ini cenderung membebani. Bagaimana cara agar standar global, standar nasional & kebutuhan lokal bisa selaras?
STUPID:
Keresahan Kamu sangat valid dan sangat penting. Masalah yang sering terjadi di banyak negara adalah "kesenjangan antara kebijakan di atas kertas dengan realitas di lapangan". Ketika standar global dan nasional diturunkan tanpa menyesuaikan dengan konteks lokal, hasilnya memang seringkali terasa seperti beban administratif yang menjauhkan guru dari esensi mengajar.
Agar ketiga elemen ini—global, nasional, dan lokal—bisa selaras, pendekatannya harus bergeser dari "top-down" (dipaksakan dari atas) menjadi "bottom-up" (ditarik dari kebutuhan bawah).
Berikut adalah strategi agar ketiganya bisa berjalan selaras tanpa mengorbankan kebutuhan masyarakat desa:
1. Ubah Paradigma: Standar Global sebagai "Menu", Bukan "Resep"
Jangan melihat standar global sebagai harga mati yang harus dipatuhi titik-koma. Seharusnya, standar global diposisikan sebagai tujuan akhir atau kompetensi dasar (misalnya: literasi, numerasi, berpikir kritis), sementara cara mencapainya diserahkan sepenuhnya kepada kearifan lokal.
Contoh: Standar global menuntut kemampuan numerasi yang kuat. Sekolah di desa tidak harus mengikuti soal-soal di buku teks kota yang asing. Numerasi bisa diajarkan melalui perhitungan hasil panen, biaya logistik desa, atau pengukuran luas lahan pertanian. Kompetensi globalnya tercapai, tapi konteksnya sangat lokal.
2. Otonomi Kurikulum: Ruang bagi Kontekstualisasi
Pemerintah perlu memberikan fleksibilitas (ruang otonomi) yang lebih besar bagi guru dan kepala sekolah di desa untuk mengadaptasi (bukan mengganti) kurikulum nasional.
Guru di desa seharusnya memiliki wewenang untuk:
* Mengganti contoh dalam materi ajar dengan fenomena yang ada di desa.
* Mengatur jadwal pembelajaran yang menyesuaikan dengan ritme kehidupan masyarakat (misalnya musim panen).
* Membawa praktisi lokal (petani sukses, pengrajin, tokoh desa) ke dalam kelas sebagai bagian dari pembelajaran.
3. Guru sebagai "Penerjemah", Bukan "Pelaksana"
Beban berat yang kamu rasakan seringkali muncul karena guru dipaksa menjadi administrator. Guru perlu didukung untuk menjadi penerjemah yang menghubungkan kurikulum nasional dengan kebutuhan nyata murid.
Alih-alih menuntut guru memenuhi tumpukan laporan administratif standar nasional, dukungan seharusnya diarahkan pada pengembangan profesionalisme yang melatih guru bagaimana cara "membumikan" standar nasional ke dalam materi yang relevan secara budaya dan geografis.
4. Menilai dengan "Kacamata Lokal"
Ketimpangan terjadi karena sistem evaluasi nasional seringkali seragam (menggunakan standar yang sama untuk kota besar dan desa terpencil).
Perlunya evaluasi berbasis bukti (evidence-based) yang juga menghargai keberhasilan siswa dalam konteks lokal. Jika seorang siswa lulusan sekolah desa mampu mengelola usaha mandiri atau menyelesaikan masalah di komunitasnya menggunakan ilmu yang dipelajari, itu adalah bukti nyata bahwa "standar" (kemampuan memecahkan masalah) telah tercapai, meskipun mungkin tidak melalui tes kertas yang standar nasional.
5. Partisipasi Komunitas dalam Perumusan Visi Sekolah
Sekolah di desa akan terasa selaras jika sekolah tersebut adalah milik komunitas. Ketika masyarakat desa (orang tua, tokoh adat, petani) dilibatkan dalam menentukan apa yang penting dipelajari oleh anak-anak mereka, maka standar nasional yang diterapkan akan terasa lebih "berbau tanah" dan relevan.
RINGKASAN FILOSOFIS
Standar global dan nasional seharusnya bertindak sebagai "jaring pengaman"—memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam keterampilan dasar—bukan "pagar pembatas" yang membatasi kreativitas sekolah.
===
MY WEEKLY ANALYSIS:
AI Sovereignty, Frontier Investment, Earth Observation.
---
