Jumat, 06 Februari 2026

Menjaga Fitrah di Tengah Syahwat Digital dan Ilusi Kemajuan



Sidang Pembaca yang Dirahmati Akal Sehat,

Marilah kita senantiasa meningkatkan kewaspadaan kita terhadap arus zaman yang kian menderu. Sesungguhnya, kita sedang hidup di sebuah fase di mana batas antara yang *haq* (nyata) dan yang *bathil* (ilusi) kian samar, tertutup oleh kabut tipis yang kita sebut sebagai inovasi. Hari ini, marilah kita merenung sejenak, menanggalkan segala atribut kecanggihan kita, untuk melihat sebuah fenomena yang saya sebut sebagai "Syahwat Teknologi".


I. Fitnah Inovasi yang Tanpa Kendali

Sesungguhnya, inovasi yang diagung-agungkan manusia hari ini telah berubah wujud menjadi sebuah berhala baru. Kita sering mendengar seruan dari penjuru dunia, dari menara-menara kaca di Silicon Valley hingga mimbar-mimbar ekonomi dunia, tentang betapa pentingnya kita menyebarkan teknologi ini secara masif—atau yang mereka sebut dengan istilah "deploy at scale".

Namun, tanyakanlah kepada lubuk hati yang paling dalam: Apakah ini sebuah bentuk kemaslahatan, ataukah sekadar pelampiasan nafsu angkara murka para pemilik modal? Sesungguhnya, menyebarkan teknologi tanpa landasan moral yang kokoh ibarat menyebar benih di atas tanah yang beracun. Ia tampak tumbuh dengan cepat, ia tampak hijau dan memukau, namun sejatinya ia sedang menyedot nutrisi kehidupan dari anak-cucu kita demi kepuasan sesaat di masa sekarang.


II. Syahwat Digital: Antara Kebutuhan dan Nafsu

Inovasi hari ini seringkali tidak lahir dari rahim kebutuhan, melainkan dari rahim birahi—birahi untuk berkuasa, birahi untuk mengumpulkan harta tanpa batas, dan birahi untuk menggantikan peran Sang Pencipta. Teknologi AI, bioteknologi, hingga sistem otonom (autonomous) kini datang merayu kita layaknya godaan yang teramat halus.

Mereka menjanjikan kemudahan yang melenakan. Mereka membisikkan bahwa manusia tidak lagi perlu berlelah-lelah mengayuh becak kehidupan, karena semuanya akan digantikan oleh algoritma. Namun waspadalah! Di balik janji manis itu, ada harga yang harus dibayar mahal: yakni kedaulatan diri kita. Kita dipaksa menyerahkan data pribadi kita, yang merupakan "aurat digital" kita, untuk kemudian diperjualbelikan di pasar-pasar gelap kepentingan global. Inilah bentuk perzinahan digital yang paling nyata, di mana manusia kehilangan kehormatannya demi kenyamanan yang semu.


III. Bencana di Balik "Grown First" dan Utang yang Melilit

Sidang pembaca yang budiman, lihatlah bagaimana mereka memuja pertumbuhan (growth). Mereka menyebutnya sebagai kemajuan, namun kita melihatnya sebagai sebuah obesitas ekonomi. Mereka memaksakan pembangunan infrastruktur raksasa, pusat data yang haus listrik, dan reaktor-reaktor yang konon katanya bersih, namun semuanya dibangun di atas fondasi utang yang melilit pinggang bangsa.

Ini adalah bentuk kemungkaran finansial. Kita sedang dipaksa untuk "meminjam" masa depan demi membiayai kemewahan teknologi hari ini. Bagaimana mungkin kita menyebut diri kita bertanggung jawab (responsible), jika setiap baris kode yang diciptakan oleh anak-anak kita yang belajar Sains Data justru digunakan untuk mengunci leher rakyat kecil ke dalam sistem kredit yang tak berujung? Sesungguhnya, kemajuan yang dibangun di atas utang adalah ilusi yang akan meledak pada waktunya, meninggalkan kita dalam kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya.


IV. Mengembalikan Fitrah: Logika Becak di Tengah Badai AI

Maka, di manakah posisi kita sebagai manusia yang berakal? Marilah kita menoleh sejenak pada filosofi sebuah becak. Sebuah kendaraan sederhana yang digerakkan oleh tenaga manusia, oleh keringat yang jujur, dan oleh interaksi yang nyata. Becak tidak membutuhkan satelit untuk bergerak, tidak membutuhkan utang luar negeri untuk sekadar jalan, dan tidak membutuhkan energi nuklir untuk sampai ke tujuan.

Becak adalah simbol kedaulatan. Ia adalah pengingat bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa canggih mesin yang kita miliki, melainkan dari seberapa mandiri kita sebagai manusia. Di era di mana segalanya ingin dijadikan otomatis, memilih untuk tetap memegang kendali manual adalah sebuah tindakan jihad intelektual. Janganlah kita menjadi zombi-zombi digital yang kehilangan arah saat listrik padam, atau menjadi fakir yang tak berdaya saat server pusat mengalami kerusakan.


V. Pesan bagi Generasi Penulis Kode

Kepada anak-anak kita, para penuntut ilmu di bidang teknologi dan sains data, sampaikanlah pesan ini: Pelajarilah ilmu itu dengan niat untuk memerdekakan manusia, bukan untuk memperbudaknya. Janganlah kalian menjadi "ulama digital" yang hanya memikirkan efisiensi algoritma tanpa memikirkan nasib manusia di balik angka-angka tersebut.

Ingatlah, setiap baris kode yang kalian tulis akan dimintai pertanggungjawabannya. Apakah kodemu membantu abang becak mendapatkan nafkah yang lebih baik, ataukah kodemu justru menghapus keberadaan mereka dari muka bumi? Apakah ilmumu digunakan untuk menjaga keanekaragaman hayati ciptaan Tuhan, ataukah untuk merekayasanya demi paten perusahaan multinasional? Sesungguhnya, teknologi yang paling mulia adalah teknologi yang tunduk pada nilai-nilai kemanusiaan, bukan yang menuhankan kecepatan dan keuntungan.

VI. Penutup: Menjaga Kedaulatan di Tengah Tipu Daya

Sebagai penutup, marilah kita sadari bahwa "The Great Illusion" atau Ilusi Agung ini hanya akan berakhir jika kita berani berkata "Cukup". Cukup bagi nafsu yang tak terbatas. Cukup bagi utang yang membebani. Dan cukup bagi teknologi yang merampas privasi.

Marilah kita kembali ke jalan yang lurus—jalan di mana inovasi digunakan untuk merawat bumi, bukan untuk mengeksploitasinya. Jalan di mana kemajuan ekonomi diukur dari kesejahteraan rakyat kecil, bukan dari angka-angka semu di layar bursa. Dan jalan di mana kita tetap bisa berdiri tegak sebagai manusia yang berdaulat, meski dunia di sekitar kita sedang mabuk oleh birahi teknologi.

Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk membedakan antara kebutuhan dan nafsu, antara kemajuan sejati dan ilusi, serta tetap diberikan kesehatan untuk terus mengayuh becak kehidupan kita sendiri menuju rida-Nya.

Amin Ya Rabbal Alamin.

=====

Sumber Foto: Makassar Infoku

-----